Tribute To Dearest Yogyakarta !




Bukan kali pertama saya mendapat rasa seperti ini. Aneh. Saat kita begitu khatam akan seluk beluk kota ini. Fasih akan detail jalan kecil damainya. Tapi saat yang bersamaan kita tidak bisa terlalu lama disini. There was a deadline, you need to hurry. If you wanna enjoy this city, you better hurry. What kind of joy is that ?
But anyway, Bukan kali pertama juga saya berlebaran disini. 2010 juga saya sempat berlebaran disini. Tapi semua hal sudah berbeda nampaknya. Dan sebulan di Yogyakarta kemaren benar-benar berbeda.  It feels like Something’s missing. I don’t know maybe i. What do I know ? sebulan kemaren rasanya terlalu cepat. Mungkin karena saya ke Yogyakarta dengan status sebagai pekerja, bukan penikmat. Datang untuk bekerja, bukan untuk menikmati. Walaupun tidak bisa tidak menikmati Yogya yang belakangan men-dingin. Tapi misi utamanya adalah bekerja. Kalaupun saya bisa sedikiti menikmati, mungkin hanya bonus.
Bagaimana menikmati Yogya ?
Gampang, dan banyak. Mungkin diantaranya:
Dulu di awal kuliah, rentang tahun 2010-2011 saya menikmati Yogya dengan menghapal jalannya. Memahami seluk beluk budayanya, memahami warganya termasuk kehidupan sosialnya. Ada banyak perbedaan dengan budaya saya yang orang Kalimantan. Terutama soal ‘sabar’ (nanti akan saya tulis tentang hal ini). Tapi kira-kira warga Yogya memiliki tingkat kesabaran dan ke-selow-an tingkat tinggi. (Di tahun 2010-2011, semoga sampai sekarang hehehe)
Pertengahan Kuliah, rentang waktu 2012-2013 saya menikmati Yogya dengan ‘nongkrong’. Esensi dari nongkrong adalah tukar-pikiran, sharing pengalaman, curhat. Tentang apapun, bahkan untuk hal yang tidak penting sekalipun. ­ngalor-ngidul  kata orang Yogya. Sederhana saja, nongkrong di Alun-alun, pesen kopi satu dan berbincang hingga lelah. Tentang semua. Tentang semua.
Diakhir-akhir kuliah, 2013-2014, saya menikmati Yogya dengan berburu. Berburu data tugas akhir. Kesana-kemari mengejar sesuatu yang masih abu-abu. Entah akan menjadi hitam oleh masukan dosen atau menjadi putih juga karena masukan dosen, tapi tidak peduli. Tetap mencari, ketemu warna lain juga tidak masalah. Selama masih ‘warna’ kata dosen pembimbing saya. Di akhir 2014 pula saya diwisuda. Bulan November 2014.
Sisanya ?
Yogya semakin mendewasakan saya. Yogya mengajarkan bahwa hidup adalah tentang hidup. Tentang bergerak dan melangkahnya kita. Kemanapun kita bergerak dan melangkah. Karena setiap detik, mili, inci pergerakan langkah kita tidak pernah ada yang sia-sia. Ia senantiasa menjadi pengalaman yang mengajarkan dan menyadarkan bahwa kita benar-benar harus belajar dari hidup.
Bagi Saya Yogya bukanlah kota sebagaimana kita membayangkan benda mati. Yogya itu hidup di hati alumni-alumninya. Yogya itu universitas kehidupan.
Karenanya, sebulan kemarin saya di Yogya saya betul-betul merasakan itu. Bahwa berproses dan berdinamika adalah bagian dari hidup itu sendiri. Karena perasaan itu pula, Sebulan kemarin saya menjadi insecure sama Yogya, tidak ingin kemana-mana kecuali Yogya. Hanya Yogya !



Sunter, 26 Juli 2015 (07.13pm L’alphalpha – wish)

Comments