Posts

Showing posts from June, 2017

Tentang Akhir dari Ramadhan

Image
Pada suatu fragmen di negeri seberang, beberapa anak muda terlibat dialog ngalor-ngidul, tanpa arah soal akhir dari bulan puasa. Pembicaraan itu seputar mudik, baju baru dan segala hal yang sudah kita anggap tradisi menyambut lebaran. Padahal menyambut lebaran sama artinya dengan meninggalkan ramadhan. X: Tahukah kau teman, sebaik-baiknya mudik adalah mudik kedalam diri sendiri Y: Iya teman, mudik itu yang penting adalah mudik mental nya. Bukan fisiknya. Z: Belum lagi kebutuhan akan baju lebaran. Semua orang sibuk mencari baju baru lebaran, semua seperti harus baru. Padahal sebaik-baiknya pakaian adalah iman. X: Mudik itu mungkin kembali kepada asal. Kembali ke kampung halaman. Kampung halaman dunia itu fana. Kampung halaman di akhirat itu abadi. Y: Kalau mudik itu artinya kembali, sebaik-baiknya kembali bukankah pada yang menyuruh kita pergi ? Z: Begitu pun dengan lebaran. Jika memang harus ada yang baru di lebaran, mestilah itu cara pandang dan tujuan kita...

Jika bukan karena Bulan puasa

Jika bukan karena Bulan puasa aku tidak mungkin mencoba merasakan jerih payah buruh, driver ojek online, kuli panggul pasar yang kerjanya tanpa kepastian akan THR. Sejauh yang coba kupahami, mereka hanya bekerja dan bekerja. Sementara aku, selalu sibuk memikirkan keuntungan-keuntungan ekonomis semata. Jika bukan karena Bulan puasa, aku tidak mungkin mencoba merasakan rasa lapar dan dahaga di kerongkongan para gelandangan, pengemis, dan tuna karya lainnya. Rasa lapar dan dahaga itu mereka pahami sebagai takdir yang harus mereka jalani. Sementara aku, seringkali kecewa terhadap takdirku. Yang mungkin masih jauh lebih beruntung dibanding mereka. Jika bukan karena Bulan puasa, aku tidak mungkin mencoba memahami setiap keinginan para pesakitan yang terkulai tak berdaya pada ranjang-ranjang rumah sakit untuk dapat sembuh. Bahwa setiap keinginan tidak semuanya dapat terpenuhi. Sementara aku, atas nama keserakahan dan eksistensi diri, sebisa mungkin kuturuti hawa nafsu yang berbalut keing...

Tuhan sedang menyuruhku untuk belajar apa ya kira-kira ?

Minggu keempat bulan oktober Digempur habis-habisan sama hidup. Beberapa teman menyarankan untuk liburan, kemanapun tujuannya. Asal liburan. Sendiri. Tidak hanya soal perjalanan secara fisik dan ‘keluar’. Tapi juga perjalanan secara mental. Perjalanan masuk kedalam diri. Bertanya soal apa saja kepada diri. Tapi menurutku bukan itu jawabannya. Aku percaya Tuhan selalu memberikan fasilitas kalau sudah menetapkan ‘kebijakan’. Dan pada titik ini, saya belum mendapat fasilitas itu. Waktu yang terbatas, uang yang terbatas, kerjaan yang tidak terbatas. Hahahaha. Tuhan sedang menyuruhku untuk belajar apa ya kira-kira ? Jakarta, Senin 24 oktober 2016. Sedang mendengarkan ceramah Cak Nun via Youtube.

Sore ini Jakarta sedang hujan malu-malu

Sore ini Jakarta sedang hujan malu-malu. Ditemani Layur dalam playlist, buku Dasar-dasar Logika-nya Mas E. Sumaryono dan The Life-Changing Magic of Tidying Up-nya Marie Kondo asal Jepang, saya membuka foto-foto di galeri smartphone saya. Betapa, beberapa foto tersebut banyak bercerita dan sibuk mengingatkan saya pada kenangan masa kecil. Pada keluarga terutama. Izinkan saya menuliskan beberapa baris kata untuk menyampaikan perasaan saya sore ini. “kita memang tidak selalu berjalan beriringan Dalam hati masing-masing kita senantiasa tersimpan ego Kita memang tidak selalu merasa senang Tapi semoga kita selalu mencoba memaknai semuanya dengan bersukur Pada masa-masa sulit, kita selalu bisa berjuang bersama Kita memang tidak selalu berdekatan Tapi semoga kita senantiasa memaknainya sebagai cara Tuhan mendekatkan kita didalam masing-masing doa Persimpangan ini begitu membingungkan Begitu menguras energy Seandainya bisa memilih, kita mungkin tidak memilih untuk s...

Puasa Ibunda

Sejak kecil saya merendam pertanyaan di lubuk hati kenapa di Keluarga saya tidak pernah saya alami dan rasakan tradisi atau suasana ritual puasa sebagaimana yang saya jumpai di semua keluarga yang lain. Memang pada setiap Ramadlan terdapat suasana khusus, semacam kegembiraan dan kekhusyukan yang tidak terjadi pada bulan-bulan yang lain. Tetapi sejumlah “perilaku” atau “upacara” yang di mana-mana terjadi, tak ada di keluarga kami. Yang menonjol di masa kanak-kanak saya dari Ramadlan adalah bunyi “tédur” atau bedug yang ditabuh oleh dua orang di dua sisi, dengan aransemen yang khas. Bunyi “tédur” sore hari menjelang Maghrib di mana bakda Isya nanti kami mengawal shalat Taraweh, juga pada hari terakhir puasa yang besoknya Idulfitri — sangat menawan. Membuat kami anak-anak kecil tersenyum lebar tak habis-habis, tanpa pernah mampu merumuskan perasaan apa yang sedang kami alami. Tatkala menjelang remaja, bedug dan tédur lenyap, ditelan oleh pertengkaran tentang bid’ah, ketelingsut d...