Jika bukan karena Bulan puasa


Jika bukan karena Bulan puasa aku tidak mungkin mencoba merasakan jerih payah buruh, driver ojek online, kuli panggul pasar yang kerjanya tanpa kepastian akan THR. Sejauh yang coba kupahami, mereka hanya bekerja dan bekerja. Sementara aku, selalu sibuk memikirkan keuntungan-keuntungan ekonomis semata.
Jika bukan karena Bulan puasa, aku tidak mungkin mencoba merasakan rasa lapar dan dahaga di kerongkongan para gelandangan, pengemis, dan tuna karya lainnya. Rasa lapar dan dahaga itu mereka pahami sebagai takdir yang harus mereka jalani. Sementara aku, seringkali kecewa terhadap takdirku. Yang mungkin masih jauh lebih beruntung dibanding mereka.
Jika bukan karena Bulan puasa, aku tidak mungkin mencoba memahami setiap keinginan para pesakitan yang terkulai tak berdaya pada ranjang-ranjang rumah sakit untuk dapat sembuh. Bahwa setiap keinginan tidak semuanya dapat terpenuhi. Sementara aku, atas nama keserakahan dan eksistensi diri, sebisa mungkin kuturuti hawa nafsu yang berbalut keinginan untuk memperoleh, menguasai bahkan cenderung mengeksploitasi lambang-lambang materi.
Jika bukan karena Bulan puasa, aku tidak mungkin mencoba menyadari bahwa sebelas bulan lainnya justru adalah cobaan terberat. Bagaimana mungkin, orang-orang tidak sadar bahwa dibulan puasa kita bisa puasa, membagikan ta’jil, tadarus, masjid menjadi lebih ramai, anak-anak yatim mendadak jadi primadona yang dikerjakan secara berjamaah. Sementara sebelas bulan lainnya, aku dibiarkan sendiri mencari jamaah-jamaah itu.
Jika bukan karena Bulan puasa, tidak mungkin kupelajari bahwa, Sebelas bulan lainnya adalah hari raya untuk keserakahan. Waktu berbuka paling lama untuk menuruti hawa nafsu. Dan bagi-bagi THR untuk proyek menjauh dari rasa sukur atas nikmat-Mu.


Komando IV, Jakarta Selatan, 12 June 2017

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?