Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru
"Aku berasa mimpi."
Tanpa sadar kalimat itu yang saya ucapkan sesaat melihat anak kami lahir ke dunia, tepat di hadapan saya.
Suatu pagi, dengan agak malu-malu Citra mendatangi saya.
"Aku barusan pake testpack"
"Oh iya? Dan hasilnya?"
"Ini." Citra menunjukkan testpack beserta indikator dua garis terpampang di permukaannya.
Kalau tidak salah, waktu itu akhir September 2020. Hitung mundur ke tanggal pernikahan kami pada 30 November 2019, maka butuh waktu sekitar 10 bulan untuk bisa menemukan dua garis pada testpack. Namun begitu, sejak awal kami memang tidak mematok dan berekspektasi apa-apa.
"Se-dikasihnya aja." Kami menggunakan jawaban itu tiap kali ditanya soal kapan berencana mau punya anak.
Oktober 2020, kami berangkat ke Tarakan menghadiri pernikahan sepupu saya. Dalam perjalanan, kami bermufakat untuk memberi tahu orang-orang rumah di Tarakan dengan cara yang "biasa saja", dengan cara yang casual saja. Bukan karena apa-apa, melainkan supaya kami sama-sama tidak memunculkan ekspektasi yang berlebihan.
Singkatnya, kami berhasil menceritakan hasil testpack dengan cara yang "biasa saja" persis seperti rencana. H-1 sebelum kembali ke Bogor, bersama dengan orang rumah, kami memberanikan diri ke salah satu dokter kandungan di Tarakan. Keputusan ini kami ambil dengan dua pertimbangan: pertama, memastikan kebenaran hasil testpack dan kedua, meminta tips berpergian yang aman jika kebenaran hasil testpack itu telah dibuktikan.
Hari H kepulangan kami ke Bogor, Citra memulai hari seperti biasa. Bedanya, pagi itu ia minum obat dari dokter kandungan. Konon, obat itu adalah obat penguat kandungan. Kata dokter, telah terbentuk kantong pada rahim Citra. Usianya kurang lebih lima minggu. Obat itu tak lain adalah jawaban atas tips yang kami tanyakan ke dokter kandungan.
Tapi oh tapi, itu saja belum cukup membuat kami 100% lega. Sebab, mengingat apa yang dikatakan dokter kemarin, dua garis pada testpack dan kantong rahim memang indikasi kehamilan. Namun kami tetap harus memastikan bahwa kantong rahim itu terisi oleh janin. Dan tentu saja, ada detak jantungnya sebagai tanda janin itu hidup.
Bagian 2: Merawat Kehamilan
Setelah mengetahui dan memastikan hasil dua garis pada testpack melalui dokter kandungan di Tarakan, kira-kira selang sebulan kemudian kami memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan di Bogor. Kami mulai mengumpulkan informasi dan berita sebanyak-banyaknya dengan browsing. Kami perlu tahu mengenai siapa-siapa saja dokter kandungan di sekitaran Bogor, kapan praktiknya, serta bagaimana rekam jejaknya. Memang, sebagian blog atau artikel yang kami temukan, ada yang menyertakan review atau berbagi pengalaman terhadap satu-dua dokter. Namun itu saja belum cukup. Kami merasa belum betul-betul yakin.
Saya agak lupa pastinya, tapi karena jadwal ke dokter kandungan sudah semakin dekat dan kami perlu tahu perkembangan kantong pada rahim Citra, kami pun akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Bogor. Alasan memilihnya sederhana: dekat dengan rumah. Toh kalaupun kami ingin pindah ke rumah sakit atau dokter lain, kami masih punya banyak waktu. Begitu jalan pikir kami waktu itu. Belakangan, kami memutuskan untuk lahiran di rumah sakit ini dengan dokter kandungan yang ini.
Sabtu itu, kami menemui salah satu dokter kandungan di sana. Setelah antre, kini tiba giliran kami. Citra dipersilakan naik ke ranjang observasi, perutnya ditempeli alat USG, lalu pada monitor hitam putih, terdapat setitik bayangan. Saya dan Citra sama-sama tidak punya petunjuk akan setitik bayangan tersebut. Dalam satu-dua detik yang hening, tiba-tiba dokter mengubah pengaturan pada USG sehingga terdengar audio, mirip suara detak jantung.
![]() |
| USG kedua di Bogor, 14 November 2020, memastikan kantong janinnya terisi dan mendengar detak jantungnya. |
"Selamat ya pak, bu, ini adalah suara detak jantung janin bapak dan ibu."
Kurang lebih begitu kata Dokter. Saya dan Citra masih memproses semua kejadian di hadapan kami. Selang dua detik setelahnya, kami menyadari bahwa itulah pertama kalinya kami mulai percaya ada kehidupan yang sedang tumbuh pada rahim Citra. Sejak saat itu, kami semakin bertekad merawatnya dengan lebih baik.
Di awal-awal kehamilan, Citra mengalami mual yang hebat. Ia, merasa eneg bahkan untuk sekadar meminum air putih. Sebelum tidur malam, rasanya kurang enak kalau belum muntah, katanya. Setiap ingin bepergian, kami selalu menyiapkan kantong plastik untuk jaga-jaga kalau Citra ingin muntah. Faktanya, ia memang selalu muntah setiap kali kami bepergian. Keadaan itu bertahan hingga usia kehamilan tiga-empat bulan.
Kabar baiknya, walaupun sering mual diikuti dengan muntah, nafsu makan Citra tidak terganggu. Ia tidak punya masalah dengan penurunan berat badan atau kondisi fisik lemas karena kurang makan atau cairan. Kata dokter, tantangan di masa trimester pertama (bulan ke 1-3) ini adalah menjaga rahim dan janin agar tetap kuat dan sehat. Karena pada fase ini, kondisi rahim dan janin masih rentan.
Lain trimester satu, lain pula trimester dua. Seperti yang dikatakan oleh banyak orang, memang benar adanya kalau trimester dua (bulan ke 4-6) adalah masa-masa keemasan. Mual dan muntah berkurang, rahim dan janin sudah semakin kuat bahkan ibu hamil disarankan untuk travelling. Bahkan ada istilah baby-moon untuk "merayakan" fase ini.
Seiring berjalannya waktu, tibalah kami pada trimester tiga. Konon, trimester tiga adalah puncak dari segala kebimbangan. Pada fase ini, kita sudah harus bisa memutuskan --atau paling tidak mempertimbangkan-- banyak hal: mau lahiran normal atau cesar, di rumah sakit atau klinik, menggunakan jasa dokter kandungan atau bidan, menggunakan metode pembayaran seperti apa, apa-apa saja yang perlu dipersiapkan, dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan lain yang mengantre untuk segera dicari tahu jawabannya.
Sejalan dengan semua kebimbangan itu, ada pula kebimbangan yang diikuti perasaan senang, penasaran sekaligus takut. Senang karena hari kelahiran semakin dekat, penasaran akan seperti apa prosesnya, takut jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Saat usia kehamilan delapan bulan, pada monitor USG kami diperlihatkan fakta kalau berat badan calon bayi kami masih di bawah target. Konon, estimasi beratnya sekitar 2,3 kg. Sementara target yang ditetapkan untuk usia kehamilan delapan bulan adalah 2,5 kg. Oleh dokter, kami diminta untuk menaikkan berat badan si calon bayi. Khusus Citra, ia diminta untuk memakan minimal 3-4 butir telur ayam rebus setiap harinya. Namun begitu, kami menjalani perintah ini dengan senang-senang saja, setidaknya bagi saya. Setahu saya, Citra juga demikian. Tampaknya.
Saat kontrol sebulan kemudian, kami mendapati bahwa berat si calon bayi hanya naik 100 gram. Artinya berat totalnya adalah 2,4 kg. Citra diminta untuk menambah jumlah telur rebus yang harus ia konsumsi. Dari yang awalnya 3-4 butir per hari, sekarang ia harus memakan 6 butir telur rebus sehari. Dokter mengingatkan, jika berat badan calon bayi kami tidak bertambah maka dikhawatirkan akan muncul resiko yang tidak diinginkan. Selain itu, tentu saja bayi kami kelak akan dikategorikan sebagai BBLR alias Berat Badan Lahir Rendah. Katanya, ada perlakuan "khusus" untuk bayi dengan kategori BBLR.
Mendapati kenyataan itu, saya dan Citra gamang. Tapi waktu terus berjalan tanpa peduli perasaan kami dan calon bayi. Sambil terus memberikan afirmasi positif dan berusaha memenuhi "kewajiban" mengonsumsi 6 butir telur rebus setiap hari, kami juga berdoa: semoga berat badan calon bayi bertambah, paling tidak mencapai target 2,5 kg saat dilahirkan.
Sebagai informasi, saat kehamilan sudah memasuki usia sembilan bulan, maka frekuensi kontrol ke dokter kandungan pun meningkat. Dari yang awalnya sebulan sekali, lalu dua minggu sekali, kini kami harus ke dokter kandungan seminggu sekali. Pada usia kehamilan 39 minggu, estimasi dokter atas berat badan calon bayi kami cukup membuat kami lega. Pada layar USG tertera: 2902 gram atau 2,9 kg.
Di luar berita yang cukup mengkhawatirkan bagi kami soal berat badan, si calon bayi juga mengirim kabar baik. Didapati lewat tangkapan layar USG, posisi si calon bayi sudah cukup optimal. Ia siap untuk lahir.
![]() |
| Sabtu, 5 Juni 2020. Estimasi berat badan bayi menunjukkan angka 2902 gram |
Bagian 3: Menyiapkan Kelahiran
Saya dan Citra terhitung dua kali ikut kelas senam hamil. Citra, bahkan hampir setiap malam rajin menonton channel Youtube yang membahas dan mengupas seputar kehamilan dan kelahiran. Sesekali saya diajaknya menonton, sekaligus memastikan kesiapan saya menyambut kelahiran. Setiap pagi selagi saya WFH, ia rutin senam hamil dan yoga di rumah. Jalan kaki, sebagai olahraga wajib bagi ibu hamil juga dijalankan, hampir dua hari sekali.
Citra juga telah menyiapkan berbagai macam kebutuhan untuk menyambut kelahiran anak pertama kami. Pada Google Sheet, ia buat daftar belanjaan yang dibaginya menjadi tiga tingkatan: prioritas 1, 2, dan 3. Prioritas 1 artinya yang paling penting, sehingga harus tersedia bahkan sebelum lahiran. Prioritas 2 dan 3 masih bisa ditunda bahkan masih mungkin untuk dibatalkan.
Dengan adanya daftar ini, ia jadi hapal kebutuhannya setiap kali ditanya ingin dihadiahi apa oleh teman-temannya. Lewat daftar ini pula, cara belanjanya menjadi efektif dan efisien, karena fokusnya adalah memenuhi kebutuhan prioritas 1. Tentu saja kebutuhan masing-masing ibu hamil berbeda, tapi paling tidak kami punya gambaran tentang apa yang paling kami butuhkan, apa yang bisa ditunda atau bahkan dibatalkan. (Silakan unduh Google Sheet: Daftar Belanja Kebutuhan Bayi)
Saat usia kehamilan genap delapan bulan kami mulai mengemas perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Citra mengemas dengan sangat rapi. Ia memasukkan perlengkapan dan kebutuhan kami sesuai kategori dan kepemilikannya. Setelah yakin semuanya komplet, kami memasukkannya ke dalam mobil. Menyimpannya di sana, jaga-jaga jika harinya sudah tiba sehingga kami tak perlu repot lagi mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan untuk lahiran.
Bagian 4: Menuju Harinya
Sabtu 5 Juni, adalah kontrol kesekian kalinya. Pada kontrol ini pula kami bisa bernafas lega karena berat badan calon bayi sudah lebih dari target. Pada USG posisinya sudah optimal. Namun belum tampak tanda-tanda ia akan lahir. Sementara, usia kandungan Citra menuju 40 minggu. Dari tangkapan layar USG kami juga masih bisa sedikit lega karena kandungan air ketuban masih cukup. Tapi dokter punya pertimbangan lain. Siang hari itu ia memberi tahu kami sebuah informasi yang sejujurnya --kalau boleh memilih-- tidak ingin kami dengar.
"Karena usia kandungan sudah menuju 40 minggu, tapi belum ada tanda-tanda si bayi akan lahir, maka Kamis depan tanggal 10 Juni, ibu dan bapak bisa langsung masuk ke IGD ya. Ini saya kasih surat pengantar untuk masuk ke IGD. Nanti kita lihat tanda-tanda lahirnya sudah kelihatan apa belum, kalau masih belum juga, maka ibu akan kami induksi. Jika setelah induksi masih belum tampak akan tanda-tanda kelahiran, maka kita akan ambil jalan SC (Cesar). Sebagai informasi, kalau induksi persentase keberhasilannya sekitar 30%. Usia kehamilan ibu sudah cukup lama dan plasenta-nya juga sudah mengalami pengapuran. Saya khawatir, fungsi plasenta untuk menyalurkan nutrisi ke bayi jadi berkurang." Begitu kira-kira ucapannya.
Siang itu kami ditembak dari jarak 1-2 meter tepat di muka. Selagi memproses ucapan dokter, kami mencoba mengutarakan pendapat kami untuk menunggu kelahiran secara alami saja, tanpa proses induksi apalagi cesar. Bukan karena kami tidak setuju cesar, tapi karena semua persiapan yang kami lakukan sejauh ini adalah persiapan untuk lahiran normal. Walaupun semua yang kami tahu dan inginkan telah kami sampaikan, namun dokter telah membuat keputusan. Surat pengantar ke IGD tertanggal 10 Juni telah kami terima. Kami pulang dengan perasaan kalah.
Dalam perjalanan ke rumah, Citra masih belum percaya akan apa yang didengarnya. Sejauh hasil bacaan, tontonan dan pengalaman orang-orang terdekatnya, Citra meyakini bahwa usia kandungan bisa ditunggu hingga usia 42 minggu. Saya setuju dengan pendapatnya. Pengalaman itu kami ceritakan pada kedua orangtua Citra. Tampaknya mereka juga masih sulit memproses, mengingat semua persiapan yang kami lakukan adalah persiapan untuk menjalani persalinan normal. Kami menutup hari itu dengan perasaan yang tak menentu.
Hari Minggu pagi 6 Juni, Citra mengaku mendapati flek kecoklatan pada saat buang air kecil. Katanya, ini memang wajar dan semoga menjadi tanda kehamilan. Untuk memastikan apakah memang flek tersebut adalah tanda-tanda kelahiran, dan untuk mencari pendapat alternatif soal kondisi yang kami terima kemarin, kami pun browsing dokter kandungan yang buka praktik. Sayangnya pilihan itu tidak tersedia, kebanyakan dokter memilih tidak berpraktik pada hari Minggu. Kami, akhirnya menerima pendapat untuk berkunjung ke salah satu klinik bidan yang cukup tersohor namanya di Bogor.
Setibanya di tempat klinik, kami juga mendapati kenyataan kalau kliniknya tutup. Saya tidak ingin pulang dengan perasaan kalah seperti semalam. Saya beranikan diri menekan bel. Satu kali, belum ada yang keluar. Dua kali, masih sama. Yang ketiga muncul seorang ibu membuka pintu. Belakangan kami tahu kalau beliau adalah salah satu bidan jaga pada klinik tersebut.
"Mohon maaf klinik tutup mas. Datang lagi Senin besok ya." Ia menyambut sekaligus menutup kesempatan bagi kami.
"Oh gitu, boleh minta tolong gak bu untuk mengecek istri saya. Soalnya tadi pagi sudah muncul flek kecoklatan." Tiba-tiba saya punya keberanian mengatakan itu.
"Usia kandungannya berapa minggu pak?"
"39 menuju 40 minggu"
"Istrinya dibawa?"
"Iya dibawa"
"Buku kontrolnya juga dibawa?"
"Iya bu, ini buku kontrolnya"
Ia mengecek buku tersebut dan menoleh kepada kami.
"Bukan pasien di sini ya?"
"Iya betul bu, kami biasanya periksa di rumah sakit. Cuma karena hari ini dokter kandungan tidak praktik jadi kami memutuskan untuk ke sini. Selain itu, ada hal yang ingin kami konsultasikan terkait kondisi kehamilan istri saya." Saya memberondongnya dengan kalimat-kalimat tersebut sambil berharap ia mau menerima kami.
"Hmm, yaudah coba aja pak istrinya dibawa ke dalam."
Kami menceritakan semua hal yang bisa kami ingat, terutama terkait kondisi kehamilan Citra dan bagaimana pandangan kami terhadap situasi ini.
"Masih bisa ditunggu kok, paling gak maksimal banget sampai 19 Juni, atau 10 hari setelah HPL." Katanya.
Saya dan Citra saling menatap sambil mengembuskan nafas. Kami sedikit lega. Paling tidak pendapat kami soal kelahiran yang bisa ditunggu mendapat konfirmasi oleh bidan.
"Flek kecokelatan memang salah satu tanda kehamilan. Tapi mungkin masih lama, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai seminggu kemudian baru lahiran. Kalau mau hari Kamis ke sini aja. Kita ada senam hamil tiap hari Kamis" Ia menambahkan sekaligus memberi saran.
Kami pulang dengan perasaan sedikit lega. Sorenya Citra mengajak makan bakso.
Dalam perjalanan menuju dan dari tempat makan bakso, Citra mengaku mengalami kontraksi. Ia tak bisa lepas dari aplikasi pencatat kontraksi. Pada layar aplikasi, rentang waktunya masih belum teratur. Ini bisa punya banyak arti, salah satunya adalah kontraksi palsu. Namun kami meyakini kontraksi palsu adalah jalan menuju kontraksi yang sebenarnya. Dan kontraksi sebenarnya adalah jalan yang sangat panjang menuju kelahiran.
"Mas..mas... kontraksi ku makin teratur. Menurut aplikasi, kita disuruh siap-siap ke rumah sakit." Kalimat itu meluncur deras dari mulut Citra sesaat saya membuka mata.
"Terus gemana?"
"Kayanya sih masih aman, paling gak kamu udah tau kondisinya"
"Oh yaudah, coba tenang dulu, minum air putih dulu. Kita hitung bareng-bareng kontraksinya."
Saya lihat jam di ruang makan: 00.40. Saya buka layar handphone: Monday, 7 June - 00.40. Selang beberapa menit, kami memutuskan untuk melanjutkan tidur.
Senin pagi, rasa kontraksinya masih sama. Setiap kali datang, saya bertanya pada Citra: dari rentang 1 sampai 10, berapa rasa sakitnya.
"Hmmm dua kayanya"
"Tapi kamu gak papa? Sudah mau ke rumah sakit?"
"Entar dulu deh, feeling-ku masih jauh dari lahiran." Pungkasnya.
Senin sore pukul 16.30, kami penasaran dan ingin memastikan apakah memang yang dialami Citra adalah kontraksi asli. Kami memutuskan menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana, kami masuk ke IGD. Sesaat setelahnya bidan jaga datang dan lanjut memeriksa.
"Masih bukaan satu bu. Biasanya butuh waktu 12 sampai 24 jam lagi menuju kelahiran. Nah berhubung situasi pandemi, saya sarankan ibu lebih baik menunggu di rumah saja. Kalau memang sakit kontraksinya dirasa bertambah dalam rentang waktu yang juga makin sering, boleh datang ke sini lagi." Begitu penjelasannya.
Sesaat sebelum meninggalkan IGD, bidan berpesan untuk menyiapkan tenaga untuk lahiran dengan cara istirahat dan makan yang cukup serta tetap terhidrasi.
Kami sepakat dengan bu bidan, kami putuskan untuk pulang. Bagi kami, senin malam itu adalah senin malam terpanjang yang pernah ada. Citra juga sudah tidak terlalu nyenyak tidurnya, tapi saya meyakinkan dia untuk tetap istirahat untuk menyambut kelahiran.
Selasa siang, 8 Juni, Citra merasa sakit kontraksinya meningkat.
"Ini udah empat deh kayanya." Citra menjawab saat saya bertanya skala sakit antara 1-10.
"Yaudah, sore ini kita ke rumah sakit lagi ya." Kata saya.
Sekitar tiga-empat menit sebelum azan asar berkumandang, kami tiba di IGD rumah sakit. Saya tahu, karena di depan rumah sakit tersebut terdapat sebuah masjid besar. Suara azan dari masjid besar itu membuat saya sadar, lalu kemudian melihat layar handphone, jam menunjukan angka 15.12 pada layarnya.
Dengan mekanisme yang sama seperti saat kami datang kemarin, bidan pun merespon dan menjawab.
"Sekarang bukaan dua menuju tiga. Sebentar saya telepon dokter kandungan dulu ya pak."
Sesaat kemudian ia datang kembali dan menyarankan kami untuk melakukan prosedur rawat inap, sambil Citra melakukan swab test. Selagi saya sibuk dengan urusan administrasi dan pendaftaran, Citra juga sibuk diobservasi, diambil darahnya dan dirontgen. Setelah semua prosedur pendaftaran kami penuhi, sekitar pukul 17.30 kami tiba di kamar rawat inap.
Sehabis magrib, Citra ingin menggeser posisi tidurnya. Dalam fase kontraksi yang semakin sering dan teratur, menggeser posisi tidur haruslah hati-hati. Menurut Citra, rasa-rasanya semua badan jadi semakin pegal. Karenanya perkara menggeser badan saja harus dilakukan perlahan.
Dalam kondisi demikian, Citra merasa kalau kasurnya basah. Saya turut memastikan dan sependapat dengannya. Kami curiga ini adalah air ketuban yang merembes. Sebagai informasi, air ketuban memiliki bau yang khas dan tidak berwarna. Beda dengan air kencing, air ketuban biasanya mengalir tanpa effort dari si ibu, bahkan seringkali tidak disadari.
"Aku panggilin perawat ya"
Citra mengangguk.
Dua perawat masuk untuk mengecek. Dalam proses hendak mengecek, Citra diminta untuk berada pada posisi optimal. Pada saat itulah, menurut pengakuan Citra, ia mendengar samar-samar suara seperti balon air yang pecah.
"Oh iya bener. Ini air ketubannya sudah pecah bu, kami siapkan ruang tindakan ya." Begitu kata perawat seraya bergegas keluar ruangan.
Kami, lagi-lagi masih memproses apa arti dari semua ini. Tapi semoga saja pertanda baik.
Citra kemudian dibawa menuju ruang tindakan, perawat dan bidan mempersiapkan segala sesuatunya, saya mendampingi. Sekira pukul 20.08 perawat mengatakan kalau sekarang sudah bukaan tujuh. Saya dan Citra kaget sekaligus lega karena pembukaannya terus bertambah. Dari yang terakhir diperiksa masih bukaan tiga, sekarang sudah bukaan tujuh. Ini pertanda baik. Menurut perhitungan kami dan para bidan, jika semuanya lancar malam ini Citra akan melahirkan.
Perawat menelpon dokter kandungan langganan kami. Sesaat kemudian dokter datang dan Citra dibimbing untuk belajar mengejan. Oleh dokter saya diminta untuk pindah posisi ke sebelah kanan Citra, berdampingan dengan dokter kandungan tersebut.
Di dalam ruang tindakan saya menghitung ada sekitar enam-tujuh orang termasuk saya, Citra dan dokter kandungan. Semuanya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Ada yang menyiapkan alat, ada yang bersiap menyambut si bayi bahkan ada yang tiba-tiba naik ke atas ranjang menuju ke belakang Citra, menjadi sandaran dan menopang kepala Citra. Pukul 22.30 anak kami lahir dengan selamat. Masing-masing dari kami juga tetap melakukan tugas dan fungsinya, dokter kandungan memimpin semua proses ini.
Anak kami yang baru lahir lalu dibawa oleh perawat anak yang sedari tadi sibuk dengan persiapan menyambut si bayi. Saya mengira-ngira, tugasnya adalah memastikan kebutuhan si bayi yang baru lahir terpenuhi, sekaligus menjalankan SOP rumah sakit: urusan administrasi, suntikan bayi baru lahir, meletakannya pada penghangat, memberi identitas, diakhiri dengan "serah terima" pada saya.
Di antara SOP yang dijalankan itu, momen mendebarkan tentu saja saat proses serah terima. Pada momen itu, si perawat mengajak saya untuk sama-sama mengecek indera dan kelengkapan tubuh si bayi. Alhamdulillah semua lengkap. Saya dipersilakan untuk azan dan ikamah pada telinga kanan-kiri anak kami.
Sementara saya, anak kami dan perawat anak bersama memastikan kebutuhan si bayi terpenuhi, Citra juga menjalani SOP-nya sendiri dibantu para bidan, perawat dan dokter kandungan. Semua berlangsung cepat, saya semacam dipertontonkan aksi teaterikal yang sudah sering dibawakan. Saya lega, Citra dan anak kami diperlakukan dengan baik dan hangat.
Masih ingat dengan perjuangan kami menaikkan berat badan si bayi sewaktu masih di dalam kandungan? Saat lahir, ia langsung ditimbang. Kami sangat-sangat bersukur ia lahir melampaui target dan harapan kami. Ia lahir dengan berat 3,2 kg.
Bagian 5: Tentang Nama
Dalam fase-fase menunggu kelahiran, fase mencari dan memilih nama untuk calon bayi tentu jadi hal yang menyenangkan. Pada usia kehamilan tiga-empat bulan kami mulai menginventarisir calon-calon nama. Saya pribadi ingin menggunakan kata asli Indonesia atau bahasa sansekerta. Citra ternyata juga punya calon-calon nama, yang mungkin sudah dipikirkannya jauh-jauh hari.
Sesaat setelah mengetahui jenis kelamin anak kami, proses pencarian nama pun dipersempit sesuai jenis kelaminnya. Dalam proses pencarian, kami menggunakan Instagram dan Google untuk mengumpulkan informasi. Dalam proses ini, Google Sheet lagi-lagi cukup membantu dalam proses inventarisir calon nama-nama bayi.
Setelah terkumpul puluhan nama-nama bayi, kami mulai menyaring, mana kira-kira nama yang cocok dengan harapan kami. Dalam proses itu, kami menemukan nama "Khadga". Untuk pertama kalinya kami sepakat akan menggunakan nama itu untuk jadi salah satu komponen nama anak kami.
Saya mulai berangan-angan, kalau namanya Khadga, maka saya ingin memanggilnya "Aga". Khadga merupakan bahasa sansekerta, yang artinya pedang. Ia sering disebut sebagai lambang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Hari berganti hari, belum ada satu nama lagi yang kami sepakati. Tapi paling tidak kami sudah sepakat kalau nama belakangnya adalah gabungan nama kami: Adit dan Citra.
Sebenarnya konsep menamai anak menggunakan gabungan nama kedua orangtuanya bukanlah hal yang baru. Konon, nama belakang saya, Zirahanasa, adalah gabungan nama kedua orangtua saya, nama kakek-nenek dari pihak ibu, serta nama kakek-nenek dari pihak ayah. Berkaca pada pengalaman itu, saya sampai membuat catatan demi mencari kata yang pas untuk menggabungkan nama kami. Pada secarik kertas, saya tulis nama saya, nama Citra, nama ayah-ibunya Citra dan nama ayah-ibu saya. Saya sampai membuat catatan anagram atas nama-nama tersebut. Hasilnya tidak begitu memuaskan.
Suatu hari Citra datang pada saya dan berkata kira-kira begini:
"Gemana kalau nama belakangnya Ankaditra. Artinya anak kami, Adit dan Citra"
Saya tertarik tapi tak langsung setuju.
"Gemana kalau Ankaratra, anak kami Raditya dan Citra." Saya menantang pernyataan Citra.
Alasan saya sederhana, saya tidak ingin nama belakang itu terlalu kelihatan gabungan nama kami. Walaupun sebenarnya, tidak masalah juga. Tapi, menurut saya, saya ingin nama belakangnya adalah gabungan nama kami yang sedikit tak tertebak.
Atas tantangan saya itu, Citra tampak belum setuju tapi kami segera lupa soal ini. Belakangan, kami sepakat menggunakan Ankaditra sebagai nama belakang dari nama anak kami.
Sekarang kami sudah punya nama tengah Khadga, dan nama belakang Ankaditra. Selanjutnya adalah menyepakati nama depan. Citra ingin menggunakan nama Arkian, sementara saya ingin memakai nama Auriga. Arkian adalah kata dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, artinya: sesudah itu, kemudian dari itu. Sementara Auriga dalam bahasa sansekerta berarti gugusan bintang. Sesuatu yang jauh di atas, menghampar, tempat segala harap dipanjatkan, begitu imajinasi saya terhadap nama Auriga. Hingga mendekati hari kelahiran pun kami masih belum bersepakat soal nama depan.
Saya lupa pastinya, tapi tiba-tiba kami sepakat akan menggunakan nama Arkian sebagai nama depan. Bagi saya, Arkian atau Auriga sama-sama nama yang saya sukai. Saya mulai belajar tidak peduli pada kedua pilihan tersebut, karena memang sama bagusnya, sama baiknya, dan sama-sama punya makna mendalam.
Kata Arkian berarti sesudah itu; kemudian dari itu. Dalam imajinasi saya, kata ini bisa digunakan untuk melanjutkan cerita. Khadga adalah pedang yang juga simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, sedangkan Ankaditra kependekan dari anak kami Adit dan Citra.
Dengan rangkaian arti itu, kami memaknai Arkian Khadga Ankaditra adalah anak laki-laki Adit dan Citra yang akan melanjutkan cerita dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Kami memanggilnya Kian.
Bagian 6: Mengambil Pelajaran
Rupa-rupanya kami, saya dan Citra memang perlu lebih banyak belajar lagi. Kami perlu memahami berbagai situasi, bagaimana mengambil keputusan yang cepat dan tepat serta belajar memahami satu sama lain. Berbagai situasi yang telah kami ceritakan di atas, mungkin hanya sedikit dari apa yang sebenarnya terjadi. Tapi satu yang pasti, kita selalu bisa mengambil perjalanan atas apa-apa yang sudah, sedang dan mungkin akan terjadi.
Selama masa-masa kehamilan hingga kelahiran kami banyak menemukan pengalaman dan pelajaran. Lewat blog ini, kami berharap bisa merawat ingatan sambil membagikan pengalaman kami. Bagi teman-teman yang mungkin membaca, semoga bisa mendapat gambaran dan alternatif cara pandang dalam mengambil keputusan. Terutama jika berkaitan dengan urusan kehamilan dan kelahiran. Kami memilih menulis di blog agar siapa tahu, bisa membantu teman-teman dalam mengambil keputusan dengan lebih baik dan bijak lagi.
Berikut pelajaran yang mungkin bisa kami bagikan:
1. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Fisik, mental, tabungan dan apapun yang berhubungan dengan proses kehamilan dan kehamilan. Alokasikan waktu untuk belajar dan memahami hal-hal seputar kehamilan dan kelahiran. Pahami juga berbagai kondisi dan konteks, karena bisa jadi apa yang kita baca di internet berbeda dengan kondisi dan konteks yang sedang kita alami. Apa-apa yang kita lihat dan baca di internet sebaiknya dijadikan salah satu referensi saja, bukan satu-satunya.
2. Dalam kondisi kami, dokter kandungan langganan kami memiliki pasien yang sangat banyak. Sehingga jika tidak menyiapkan pertanyaan dari awal, maka waktu konsultasi hanya sebentar. Karenanya, kumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa ditanyakan kepada dokter kandungan. Akan lebih baik jika sebelumnya kalian bisa memberikan perbandingan pendapat para ahli, terhadap satu situasi. Sehingga saat di ruang konsultasi, kita bisa sedikit berdiskusi dengan dokter kandungan.
3. Cari tahu kecendrungan dan pandangan dokter kandungan yang menangani kalian, terhadap proses persalinan. Belakangan kami pahami, bahwa tidak semua dokter kandungan pro kelahiran normal, sebagaimana tidak semua dokter kandungan pro cesar. Kecendrungan dan pandangan dokter kandungan ini penting terhadap keputusan yang kelak akan diambilnya pada kondisi-kondisi tertentu. Bagi kami, keselamatan adalah hal yang utama dan di atas segalanya. Sehingga urusan lahir normal atau cesar hanya metode saja. Besok-besok jika kami ditanya pro normal atau pro cesar, kami akan menjawab: pro selamat!
4. Jika memungkinkan, selalu siapkan rencana cadangan atau alternatif pandangan terhadap situasi dan kondisi yang mungkin bisa saja terjadi.
5. Mengikuti senam hamil sangat membantu. Lewat senam hamil, si ibu tidak hanya belajar menyiapkan fisik, tapi yang jauh lebih penting adalah menyiapkan mentalnya. Saya akui, Citra begitu siap menyambut kelahiran sedikit-banyak karena mengikuti senam hamil. Hampir semua materi yang kami dapatkan lewat senam hamil sangat berguna pada saat hari kelahiran.
6. Untuk para suami, pendampingan dan semangat dari kita adalah yang pertama dan utama bagi istri. Bantu istri lewat afirmasi positif, ingatkan mereka untuk tetap sadar sambil mengatur nafas dan berdoa. Berempati pada sakit dan keluhan istri juga sangat membantu. Tidak perlu bersikap paling kuat, cukup belajar memahami sakit dan kondisi istri saja sudah cukup.
7. Miliki visi dan tujuan atas proses kelahiran yang diinginkan, persiapkan cara-cara untuk mencapainya. Namun, jadikan visi dan tujuan ini sebagai salah satu cara dan bukan satu-satunya cara. Sebab, tidak sedikit ibu hamil yang kecewa dengan realita dan kondisi pada hari kelahiran. Ingat yang paling penting dan di atas segalanya adalah keselamatan ibu dan bayi.
Lewat tulisan ini, kami juga turut mendoakan kepada teman-teman yang ingin menikah, semoga segera tercapai. Kepada teman-teman yang selama ini menginginkan anak, agar segera terwujud keinginannya. Dan kepada teman-teman yang sudah memiliki buah hati, semoga senantiasa diberi kesehatan lahir dan batinnya, fisik dan mentalnya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan baik untuk kehidupan di dunia, terlebih di akhirat.
Amiin.
Bogor, 19 Juni 2020
Ariza Raditya Zirahanasa, Citra Suciati dan Arkian Khadga Ankaditra.








Comments
Post a Comment