No surprises
Berawal dari pesan FB yang diberikan dosen saya, Mba Amalinda Savirani diatas, maka tadi sekitar jam 11an saya bertemu dengan temannya yang dari Belanda itu. Namanya Amey (dia sih melafalkan dengan cara emey, mungkin begitu tulisannya), berperawakan tinggi, namun tidak setinggi bule-bule kebanyakan. Sangat ramah dan ekspresif adalah kesan saya saat memulai diskusi dengannya. Diskusi ini sebenarnya informal, sangat informal bahkan. Penjelasan awal Amey bahwa dia meneliti tentang eksklusivisme dan inklusivisme di Indonesia, dia yang secara fisik lebih mirip orang chinnese sering mendapat perlakuan diskriminatif atau dalam bahasanya diterjemahkan sebagai eksklusif, di Belanda, tentunya dengan cara dan bahasanya sendiri. Diskusi ini diawali dengan menonton sebuah film pendek berjudul 'Sugiharto Halim', intinya SH adalah orang chinnesse yang diberi nama sangat Indonesia oleh orang tuanya akibat adanya kebijakan orde baru yang memaksa etnis tionghoa era '65 untuk memilih k...