No surprises
Berawal dari pesan FB yang diberikan dosen saya, Mba Amalinda Savirani diatas, maka tadi sekitar jam 11an saya bertemu dengan temannya yang dari Belanda itu. Namanya Amey (dia sih melafalkan dengan cara emey, mungkin begitu tulisannya), berperawakan tinggi, namun tidak setinggi bule-bule kebanyakan. Sangat ramah dan ekspresif adalah kesan saya saat memulai diskusi dengannya. Diskusi ini sebenarnya informal, sangat informal bahkan. Penjelasan awal Amey bahwa dia meneliti tentang eksklusivisme dan inklusivisme di Indonesia, dia yang secara fisik lebih mirip orang chinnese sering mendapat perlakuan diskriminatif atau dalam bahasanya diterjemahkan sebagai eksklusif, di Belanda, tentunya dengan cara dan bahasanya sendiri. Diskusi ini diawali dengan menonton sebuah film pendek berjudul 'Sugiharto Halim', intinya SH adalah orang chinnesse yang diberi nama sangat Indonesia oleh orang tuanya akibat adanya kebijakan orde baru yang memaksa etnis tionghoa era '65 untuk memilih kewarganegaraan apakah RRC atau RI. Dan pilihan ganti nama adalah salah satu syarat untuk menjadi warga negara RI. Kebijakan yang sangat diskriminatif mengingat hal ini hanya terjadi untuk etnis tionghoa, tidak untuk India, Arab, atau Eropa. Inti film pendek itu adalah, perlakuan diskriminatif yang diperoleh SH selama ia hidup.
Berangkat dari starting point berupa film pendek itu, Amey mempersilahkan Kami untuk bercerita, apakah pernah di exclude-kan oleh kelompok lain. 'Kami' ini terdiri dari Saya dan beberapa rekan dari Jurusan saya (politik dan pemerintahan) yang dianggap Mba Linda keren di pesan FBnya (hahahah). Saya membuka diskusi dengan mengatakan bahwa saya pernah dan bahkan sering mendapat perlakuan seperti Amey ataupun SH. Secara fisik, saya memang terlihat seperti orang Chinnesse. Putih, Sipit dan semacamnya, But i'm not chinnesse anyway. So, i don't give a shit on 'em. Dilanjutkan dengan teman-teman yang lain bercerita tentang pengalamannya di 'kucilkan' (dalam tanda petik). Mulai dari eksklusiv-an dari cara berjilbab antara si Jilbab idealis (berjilbab lebar, menutupi seluruh dada bahkan perut) dengan si Jilbab modern (atau hijabers yang memakai jilbab trendy). Ada juga yang bercerita soal eksklusiv-an ekskul semasa SMA, dimana ekskul paskibra dilabeli sebagai ekskul bergengsi dan berprestasi, sementara ekskul lain seperti futsal tidak sebegitu superior dibanding paskibra dan tidak berprestasi. Dampaknya adalah perbedaan perlakuan baik dari sesama siswa maupun pihak sekolah yang memotong operasional ekskul futsal. Atau soal ekskluvis-an dikelas, saat ada perbedaan perlakuan terhadap mereka yang duduk didepan dengan mereka yang duduk dibelakang atau antara sayap kiri dan kanan. Banyaklah perilaku eksklusif-an yang terjadi, tanpa kita sadari, memaklumi atau bahkan telah menerima sepenuhnya sebagai sebuah nilai atau norma. Entahlah.
After all, Amey Said she was interesting of what they got on this discussion, she got many perspective, she got inspirated and she got a lot of fun.
Bagi saya, diskusi ini adalah pengalaman pertama saya. Pengalaman pertama berdiskusi dengan orang Bule, Belanda, dengan bahasa inggris. Pengalaman Pertama saya berdiskusi mengenai eksklusivisme. Amey menambahkan kalau sebenarnya eksklusivisme itu berbahaya, karena terjadi kadang tanpa disengaja, dan telah tertanam di alam bawah sadar kita, disamping itu institusi formal seperti sekolah dan kampus juga berperan besar dalam pelabelan sosial di masyarakat. Misalnya dengan label islam or the real islam (kata si Amey), mungkin maksudnya label untuk mereka yang islam KTP dengan islam sungguhan atau antara mereka yang abangan dengan santri. Atau pelabelan terhadap kata 'cantik' yang sebenarnya 'dibuat' oleh produsen alat-alat kecantikan, sehingga apa yang menurut kita cantik adalah hasil dari label yang diberikan produsen alat-alat kecantikan.
Diskusi yang sangat berkelas bagi saya, sangat menambah wawasan, senang bisa berbagi, senang bisa menolong Amey, terlebih bisa menjadi salah satu inspirasi dalam tulisannya. No surprises :)
Tambahan: Diskusi ini berlangsung di Rumah Seni Cemeti, Jl. D.I. Pandjaitan No 41, YK. Sebuah galeri seni yang nyaman, hospitality, unik dan inspiratif sekaligus rumah sementara bagi Amey. Situsnya bisa klik disini

Comments
Post a Comment