Posts

Showing posts from October, 2017

Refleksi Sumpah Pemuda dan Ancaman Disintegrasi Bangsa

Image
   Seorang teman pernah berkata: “Kita tidak pernah menjadi sebuah bangsa, kecuali jika dua hal : pertama saat timnas bertanding, kedua saat akan perang melawan Malaysia. Sisanya ? aku Jawa, aku Bugis, aku Banjar, aku Ambon, aku Aceh dan sebagainya. Tak pernah ada aku Indonesia”. Saya tersadar, jangan-jangan benar apa yang dikatakan olehnya. Kita tidak pernah benar-benar sadar akan identitas kolektif sebagai bangsa kecuali untuk dua kondisi tersebut. 28 Oktober sebagai salah satu tanggal penting dalam kalender nasional, sudah sepatutnya menjadi ajang bagi setiap insan bangsa untuk merefleksikan kembali gagasannya soal identitas kebangsaan.    28 Oktober 1928 tidak bisa dihilangkan begitu saja dari ingatan kolekif kita sebagai bangsa. Dari sanalah tonggak awal pergerakan nasional kita sebagai bangsa. Perjuangan-perjuangan yang sebelumnya bersifat kedaerahan dan etnosentris menemukan titik baliknya. Para pemuda dari berbagai daerah yang terkenal dengan sebutan ‘J...

Perpustakaan Nasional & Museum Jenderal Abdul Haris Nasution

Image
Perpustakaan Nasional Sabtu, 21 Oktober 2017. Jakarta sedang cerah-cerahnya. Mbak Pacar sudah tiba di Stasiun Sudirman. Siang ini agenda dating  kami adalah perpustakaan nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Si Mbak pacar tentu saja berkepentingan mencari bahan untuk jurnal tugas akhirnya. Saya tentu saja berkepentingan membaca. Apalagi yang bukan surga saat berada di Perpustakaan tertinggi di dunia dengan ribuan koleksi buku, jurnal, majalah, karya ilmiah. Ini adalah saat pertama kalinya saya berkunjung. Bermodalkan motor pribadi dan aplikasi waze  di gawai pintar, saya gas tipis-tipis menjemput Medan Merdeka Selatan. Saat tiba, di depan papan tanda kemana akan parkir terpampang jelas. Memudahkan para first-time-er  macam saya mengikutinya. Kami tiba kisaran pukul 14.30 siang, saya parkir di basement 1, Mas-Mas security mengingatkan "gunakan waktu se-efektif mungkin karena perpustakaan akan tutup pukul empat" sambil tangannya sibuk mencatat plat...

Bagaimana cara saya mengapresiasi PDKT (Peduli Kota Tarakan)

Saya yang berasal dari Tarakan nun jauh di Utara Kalimantan sana, sekarang terdampar di tengah hiruk-pikuk, hingar-bingar serta gegap-gempitanya kota megapolitan bernama Jakarta. Tapi tulisan ini bukan soal kenapa Tarakan nda punya gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta. Bukan pula soal pentas juga panggung musik antara Tarakan dan Jakarta dalam ukuran kuantitas apalagi kualitas. Apalagi -tema yang agak 'berat'- hendak membicarakan Tarakan dan Jakarta soal ketimpangan -ketimpangan apa saja, semisal akses pengetahuan, pendidikan, kesehatan serta informasi-. Saya sejujurnya ingin berbicara soal sebuah grup forum di Facebook bernama PDKT. Bukan, ini bukan PDKT akronim dari pendekatan tapi  Peduli Kota Tarakan . Sebuah forum hakiki yang dibina, diatur regulasinya sedemikan rupa oleh empat orang warga Tarakan (?). Warga PDKT biasa memanggil mereka admin. Saya sendiri belum pernah bertemu secara personal, kenalan apalagi. Grup forum ini (sampai tulisan ini dimuat) sud...

September dan isinya

Minggu kedua bulan September. 10 September 2017 tepatnya. Jakarta sedang hujan. Aneh. Padahal semingguan ini cerah. Bahkan panas. Hampir tak ada tanda akan hujan. Tandanya justru seolah akan kemarau sepanjang sisa tahun. Tapi salah dugaanku. Minggu kemaren begitu banyak aku dihadapkan pada persimpangan. Mungkin Karena aku sebenarnya belum terlalu siap untuk ini-itu. Tapi tak masalah juga sih, kadang kebimbangan itu perlu supaya kita semakin memikirkan akan kemana kita sebenarnya. Kebimbangan pada lain sisi membantu ke-fokus-an kita. Dengan atau tanpa kita sadari. Tidak apa-apa untuk merasa tidak apa-apa It’s okay to feel not okay. Belakangan ini juga merasa terlalu banyak beredar pada keramaian. Bertolak belakang dari orientasi ku dua bulan belakangan: mengapresiasi hiruk-pikuk dunia dengan diam. Mengapresiasi kebisingan dan derau dengan mendengarkan. Kadang semakin kita terpikir untuk tidak melakukan, yang terjadi justru sebaliknya bukan ? bagaimana sebenarnya cara kerja seme...
Dunia yang belakangan ini sudah terlalu bising, bisakah aku beralih pada iuran diam ?