Bagaimana cara saya mengapresiasi PDKT (Peduli Kota Tarakan)
Saya yang berasal dari Tarakan nun jauh di Utara Kalimantan sana, sekarang terdampar di tengah hiruk-pikuk, hingar-bingar serta gegap-gempitanya kota megapolitan bernama Jakarta. Tapi tulisan ini bukan soal kenapa Tarakan nda punya gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta. Bukan pula soal pentas juga panggung musik antara Tarakan dan Jakarta dalam ukuran kuantitas apalagi kualitas. Apalagi -tema yang agak 'berat'- hendak membicarakan Tarakan dan Jakarta soal ketimpangan-ketimpangan apa saja, semisal akses pengetahuan, pendidikan, kesehatan serta informasi-. Saya sejujurnya ingin berbicara soal sebuah grup forum di Facebook bernama PDKT. Bukan, ini bukan PDKT akronim dari pendekatan tapi Peduli Kota Tarakan. Sebuah forum hakiki yang dibina, diatur regulasinya sedemikan rupa oleh empat orang warga Tarakan (?). Warga PDKT biasa memanggil mereka admin. Saya sendiri belum pernah bertemu secara personal, kenalan apalagi.
Grup forum ini (sampai tulisan ini dimuat) sudah memiliki 52,545 member -yang Insya Allah- aktif. Bagaimana tidak aktif, karena hampir setiap hari selalu ramai postingan-postingan dari warganet PDKT yang budiman. Postingannya pun beragam mulai dari tingkat yang penuh faedah ala motivator, sekedar membagikan informasi soal lowongan pekerjaan atau informasi kehilangan. Hingga keluhan-keluhan khas warganet PDKT budiman soal apa saja. Jalan rusak, air macet, listrik padam, internet lambat, soal paket kuota internet cepat habis, hingga soal parkir.
Soal politik ? beh, forum ini juaranya. Seandainya jurusan politik di UGM itu ditutup, saya yakin banyak yang kuliah online dari grup ini. Soal politik sendiri bisa kita bagi menjadi dua, pertama politik Tarakan serta politik luar Tarakan. Bicara soal Politik Tarakan postingannya paling seru dan menarik jika seputaran pemilihan Walikota yang bakal dihelat tahun 2018. Didalamnya ada pakar-pakar serta bibit-bibit politisi muda yang analisisnya tajam. Setajam silet. Bahkan saya seringkali melihat teori politik yang baru pertama kali saya baca, dipostingkan atau dilemparkan pada postingan-postingan di PDKT. Sejalan dengannya, yang tak kalah seru juga diskusi soal apakah kinerja Walikota sekarang sudah optimal. Dipastikan bisa banyak dan panjang hingga ratusan komentarlah postingan tersebut. Meme politik Tarakan ? beuuh, warganet PDKT jagonya. Kreativitas mereka tak kalah dan pantas disejajarkan dengan meme-maker nasional dan internasional. Pernah juga ada isu soal admin yang mendukung salah satu bakal calon Walikota. Ramai-ramailah warganet budiman mem-bully-nya. Bahkan hingga urusan personal dan fisik sang admin juga turut menjadi objek sasaran perilaku bullying. Sayang saya tidak berhasil menemukan postingannya. Hmmm, warganet kadang juga tidak budiman.
Belum lagi soal politik luar Tarakan, yang tidak ada sangkut-pautnya secara langsung dengan kebutuhan hidup di Tarakan. Soal pilkada Jakarta misalnya, warganet PDKT ikut-ikutan membelah diri menjadi simpatisan Ahok dan Anies -waktu masih ada Mas AHY, polarisasinya belum terlihat-. Hal ini mengindikasikan warga PDKT sangat responsif menanggapi isu. Jauh lebih responsif dibanding Walikotanya, eh.
Soal agama ? jangan ditanya. Semuanya merasa paling benar. Semuanya merasa tidak pernah berbuat dosa. aku suci kalian penuh dosa-lah pokoknya !. Seolah-olah Tuhan baru hidup kemarin sore lalu membisikan semua firman-Nya ke telinga manusia untuk diteruskan kepada forum. NICE and SALUTE !
Yang menguntungkan dari forum ini -karena begitu lengkapnya- juga bisa digunakan untuk sarana jual-beli online. Segala jenis barang & jasa ditawarkan disana. Bukan tidak mungkin bakal menjadi tokotarakan.com saingannya tokopedia.com. Lebay sih, tapi bukan nda mungkin.
Sayangnya, postingan-postingan berbau ajakan atau iuran sosial di forum ini jarang ditanggapi serius. Paling sering warganet PDKT hanya menyempatkan komen "up" atau "amin" tiap kali ada postingan tersebut. Tidak semua memang, tapi mayoritas demikian. Seolah urusan politik dan agama adalah yang harus ditanggapi secara serius dan aktif, sementara untuk urusan iuran sosial cukuplah dengan ngetik "up" atau "amin". Warganet PDKT seolah gagap merespon postingan soal iuran sosial -kalau tidak mau dikatakan tidak tahu cara merespon isu sosial-
Tapi ya begitulah yang namanya forum. Selalu ada sisi baik dan buruknya, pro dan kontranya, dukung dan lawannya. Justru dengan begitulah forum tersebut hidup. Justru dengan begitulah ada panjat-panjat sosial dari kalangan warganet PDKT yang budiman.
Saya sendiri tidak pernah membayangkan untuk bikin forum se-lengkap ini. Apalagi turut menjadi bagian dalam perjalannya. Bagi saya, menjadi bagian dari gegap-gempitanya forum ini adalah hal yang menyenangkan.
Comments
Post a Comment