Perpustakaan Nasional & Museum Jenderal Abdul Haris Nasution

Perpustakaan Nasional

Sabtu, 21 Oktober 2017. Jakarta sedang cerah-cerahnya. Mbak Pacar sudah tiba di Stasiun Sudirman. Siang ini agenda dating kami adalah perpustakaan nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Si Mbak pacar tentu saja berkepentingan mencari bahan untuk jurnal tugas akhirnya. Saya tentu saja berkepentingan membaca. Apalagi yang bukan surga saat berada di Perpustakaan tertinggi di dunia dengan ribuan koleksi buku, jurnal, majalah, karya ilmiah.
Ini adalah saat pertama kalinya saya berkunjung. Bermodalkan motor pribadi dan aplikasi waze di gawai pintar, saya gas tipis-tipis menjemput Medan Merdeka Selatan. Saat tiba, di depan papan tanda kemana akan parkir terpampang jelas. Memudahkan para first-time-er macam saya mengikutinya. Kami tiba kisaran pukul 14.30 siang, saya parkir di basement 1, Mas-Mas security mengingatkan "gunakan waktu se-efektif mungkin karena perpustakaan akan tutup pukul empat" sambil tangannya sibuk mencatat plat nopol kendaraan saya.
Kesan pertama saat melihat gedung Perpustakaan Nasional ini adalah megah. Gedungnya semacam apartemen mewah dengan mall dibawahnya. Kesan selanjutnya adalah lama. Ya, menunggu lift yang jumlahnya (hanya) tiga, dari basement untuk naik keatas memakan waktu sekitar 7-13 menitan. Dari basement tidak ditemukan papan petunjuk, lantai berapa ada apa. Kami menemukannya belakangan, di lobi utama. Saya bertanya pada petugas, kemana kami bisa pergi untuk membaca. Pria paruh baya menjawab untuk umum coba ke lantai 21 atau 22. Lift terbuka, kami bergegas menuju lantai 21.
Salat satu sudut baca yang menghadap langsung ke Monas

Di lantai 21, ternyata ramai. Banyak remaja yang menghabiskan Sabtu siangnya dengan membaca. Sejauh mata memandang hanyalah buku, kelompok remaja yang berdiskusi ringan, kelompok yang lainnya terlihat serius memandang laptopnya, kelompok yang lebih banyak tenggelam dalam buku digenggaman masing-masing. Di tengah-tengah lantai 21 terdapat tangga menjulang menuju lantai 22, di samping kirinya terdapat dua alat pencari yang dipenuhi antrian pengunjung. Lantai 21 dan 22 nyatanya terhubung dengan tangga yang lumayan besar itu. Uniknya tangga itu terbagi dua sisi, sisi kanan untuk arus naik-turun pengunjung, sementara sisi kirinya disediakan bantalan kursi: untuk duduk. Tangga ini memaksimalkan fungsinya, tidak hanya menjadi tangga tapi juga mengakomodir kebutuhan akan tempat duduk para pengunjung. Arsitektur yang matang menurut saya. Sayangnya saya lupa mendokumentasikannya.

Mbak Pacar tenggelam dalam rak-rak bahasa, semiotika dan ragam rupanya. Saya ikut-ikutan menenggelamkan diri. Dan sekali tatap, saya menemukan buku ini:
Judulnya : Kamus Ajaib Bahasa Indonesia ?
Pemodernan Kosakata dan Politik Perselisihan (Jerome Samuel)


Sekilas, sepenangkapan saya -karena saya hanya membaca sekitar 10-12 halaman- buku ini bercerita tentang sejarah bahasa Indonesia. Spesifiknya mengenai signifikansi perbendaharaan kata dan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia yang menguat pada abad 20. Keberhasilan dan peran instansi pemerintah yang 'menciptakan' kata dan istilah-istilah tersebut. Negara turut campur hingga 'menciptakan' kata dan istilah-istilah baru yang konon katanya 'khas Indonesia'. Sangat menarik dan sesuai dengan minat saya: Bahasa & Politik. Sayang, bukunya belum bisa dipinjam. Seorang petugas yang saya tanyai menjawab soal sistem yang belum berfungsi dengan baik, juga buku dari perpustakaan nasional (yang lama) di Salemba belum semuanya dipindahkan kesini.

Buku kedua yang juga unik adalah buku berikut:
Judul : Membongkar Supersemar!
Dari CIA hingga kudeta merangkak melawan Bung Karno
karya : Baskara T. Wardaya


Bukan sesuatu yang baru sebenarnya bagi saya (heheh sombong). Karena tema ini memang menarik sejak lama. Jauh sebelum hiruk-pikuk yang memekakan indera. Tapi sampul buku merahnya cukup menyita perhatian. Lagipula, tak ada salahnya menambah perbendaharaan pengetahuan soal Supersemar dan intrik juga gimmick-nya. Buku ini juga tak sempat selesai saya baca. Menariknya buku ini tidak terlalu tertarik membahas soal keaslian naskah supersemar, melainkan soal apa yang melatar-belakangi terbitnya Supersemar -yang konon tak ubahnya adalah secarik kertas perintah harian oleh Bung Karno kepada Soeharto-. Juga soal bagaimana secarik kertas perintah harian itu ternyata mampu merontokan kekuasaan Soekarno sejak diterbitkan, disisi lain turut mendongkrak kekuasaan Soharto. Kurang dari 24 jam sejak diterbitkan, Soharto merasa mendapat 'mandat' untuk membubarkan partai PKI. Temuan-temuan lain didalamnya saya yakin jauh lebih menarik dan pantas dibaca. Sayang waktunya tidak cukup untuk membaca seisi buku. Dipinjam pun belum boleh.

Bel tanda waktu telah habis berbunyi. Saya dan Mbak Pacar bergegas mengembalikan buku masing-masing, lantas menuju lift. Tentu saja kami tidak ingin menunggu lift lebih lama karena jamnya perpustakaan tutup. Tidak ingin langsung pulang, kami keluar lift menuju lobi utama. Dan wow !! saya takjub beberapa detik, memandang sekeliling adalah sebuah mahakarya. Ornamen dan tata letak lobinya memukau. 

Ornamen lobi utama terdiri dari buku-buku

Sudut lain pada lobi utama


Tulisan Sokarno: Dibawah Bendera Revolusi juga termpampang di lobi. Sayang tidak ditutupi di rak kaca. 

Foto dengan idola saya (dalam bentuk lukisan). Presiden  lainnya juga ada. Tapi rasa-rasanya tidak terlalu menarik :D




Museum Jenderal Abdul Haris Nasution

Sepulang dari perpusnas, sebelum mengantar Mbak Pacar ke stasiun kami mampir ke Museum Jenderal Abdul Haris Nasution. Searah jalan pulang dan tidak pikir panjang untuk hal yang menyenangkan ini. Sedikit cerita, Saya dan Mbak Pacar memang tergolong sering berkunjung ke museum. Dalam sebulan, setidaknya sekali kami berkunjung ke museum. Mulai dari museum gajah, museum STOVIA (Budi Utomo), museum Monas, galeri nasional sudah kami jamah. Saya pribadi suka, Mbak pacar kelihatannya afirmatif saja dengan keinginan saya. Kami tiba sekitar pukul 16.15, beruntung museum belum tutup. Terletak di jalan Teukur Umar nomor 40, Menteng Jakarta Pusat, kesan awal yang saya tangkap adalah teduh. Sepanjang jalan Teuku Umar memang tumbuh pepohonan rindang. Museum ini konon adalah rumah sang Jenderal tempat ia rencananya akan dijemput paksa oleh pasukan Cakrabirawa. Pak Nas kemudian berhasil kabur dari sergapan itu, tapi ia harus membayar mahal dengan kematian putri keduanya Ade Irma Syuryani Nasution bersama ajudannya Piere Tendean. Saya tidak punya tendensi untuk bercerita mengenai prahara 30 September 1965 tengah malam di rumah itu. Tapi faktanya kejadian itu benar-benar terjadi dan rumah -yang kemudian menjadi museum itu- adalah saksi bisu sejarah. Segala sudut rumah ini seolah punya cerita dan tanda tanyanya masing-masing, menunggu untuk dibuka dan diceritakan kembali. Semoga dengan narasi yang lebih baik.
Halaman depan rumah, terpampang juga monumen Jenderal A.H Nasution 


Relief hidup & perjuangan A.H Nasution 1


Relief hidup & perjuangan A.H Nasution 2 


Diorama : detik-detik penyergapan yang berakhir dengan terbunuhnya Piere Tendean 1 


Diorama : detik-detik penyergapan yang berakhir dengan terbunuhnya Piere Tendean 2



Sudut koridor rumah

Ruang makan rumah 



 Ruang makan rumah, dari sudut berbeda







Ruang tidur utama, tempat tidur sang Jenderal

Sudut lain menuju ruang tidur A.H Nasution

Sisa peluru

Perjalanan pulang pun terjadi, sepanjang jalan saya dan Mbak Pacar tenggelam dalam diskusi. Bersukur karena Mbak Pacar (akhirnya) cukup antusias dengan narasi sejarah 65-an. Semoga bisa memicunya untuk ikut menjelajah samudra sejarah yang lebih luas lagi. Sampai jumpa pada penjelajahan berikutnya.


Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?