September dan isinya

Minggu kedua bulan September. 10 September 2017 tepatnya. Jakarta sedang hujan. Aneh. Padahal semingguan ini cerah. Bahkan panas. Hampir tak ada tanda akan hujan. Tandanya justru seolah akan kemarau sepanjang sisa tahun. Tapi salah dugaanku.
Minggu kemaren begitu banyak aku dihadapkan pada persimpangan. Mungkin Karena aku sebenarnya belum terlalu siap untuk ini-itu. Tapi tak masalah juga sih, kadang kebimbangan itu perlu supaya kita semakin memikirkan akan kemana kita sebenarnya. Kebimbangan pada lain sisi membantu ke-fokus-an kita. Dengan atau tanpa kita sadari.
Tidak apa-apa untuk merasa tidak apa-apa
It’s okay to feel not okay.
Belakangan ini juga merasa terlalu banyak beredar pada keramaian. Bertolak belakang dari orientasi ku dua bulan belakangan: mengapresiasi hiruk-pikuk dunia dengan diam. Mengapresiasi kebisingan dan derau dengan mendengarkan. Kadang semakin kita terpikir untuk tidak melakukan, yang terjadi justru sebaliknya bukan ? bagaimana sebenarnya cara kerja semesta ? bagaimana mimpi lantas tiba pada kenyataan atau justru harus ikhlas dilepaskan ? entahlah. Mungkin begitu awal mula misteri. Tidak untuk segera diketahui.
Belakangan ini –yang tak kalah seru- juga merasa sangat materialistik. What a human being am I ? menilai sesuatu penuh perhitungan, penuh pertimbangan untung-rugi. Mungkin ini salah, mungkin benar aku tak tau. Mungkin karena ada cita-cita yang sedang kuperjuangkan, aku mengira bahwa perhitungan dan cita-cita adalah segarisan-lurus. Tapi tak selamanya begitu. Ingat cara kerja semesta yang kupaparkan diatas tadi ?

Kebanyakan dari kita, termasuk aku kadang mengira jalan mencari rezeki itu kedepan. Ternyata jalan mencari rezeki itu keatas. Dengan memberi pertolongan kepada makhluk-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?