Ambigu
kehilangan itu adalah salah satu fenomena dari siklus kehidupan yang dirancang sedemikian rupa oleh Dzat diatas Arsy sana. seperti adanya kedatangan selayaknya kita harus siap berdiri pada posisi kehilangan. hari ini, saya mencoba mengingat-ingat sedikit kenangan bersama orang yang baru saja beristirahat dengan tenang dan dia adalah Paman Erwin yang merupakan adik ketiga dari Ibu saya (Ibu anak pertama). tidak banyak memang yang bisa saya gali dari folder-folder memori tentang beliau. Yang saya ingat betul adalah saya hanya bertemu dengan beliau tidak genap 10 kali, atau kalau itu kebanyakan, tidak kurang dari 5 kali. frekuensi pertemuan yang sangat sedikit untuk ukuran keponakan 'langsung'. banyak hal yang memang memisahkan kami, walaupun sekarang kami benar-benar terpisah ruang, waktu dan dunia. Paman adalah tipe orang yang tidak mau menyusahkan Kakek Nenek, karenanya selepas SMA ia merantau ke Banjarmasin hingga menikah dengan wanita asli sana. *ah, saya benar-benar bingung bagaimana harus merangkai kata-kata sebagai dokumentasi dan penghargaan terakhir saya untuk beliau*. terakhir ketemu adalah kira-kira saat saya SD dan saya agak lupa kapan tepatnya itu. yang saya ingat, memang kami sekeluarga sempat berkunjung ke Banjarmasin dan itu untuk menjadi wali nikah untuk sang Paman :''). yah, kira-kira hanya disitulah kontak langsung kami. sekitar Juli Tahun lalu, keluarga besar dari pihak Ibu memang berkumpul di Tarakan, termasuk Paman erwin beserta keluarga kecilnya (punya 2 anak, Kevin sama Tia). and i wasn't there at the momment :(.
hari ini, semalam tepatnya saya mendapat kabar duka itu saat ada acara presentasi di asrama. Ayah memberikan kabar, Ibu juga, Acil dan Paman-paman yang lain juga memberikan kabar dan kesamaan dari mereka adalah telah berpulangnya Paman Erwin ke Hadapan Illahi sang pemilik hidup. kesamaan lain adalah ucapan itu dilafalkan dengan nada sengau penuh kesedihan dan tanpa terasa saya meneteskan air mata. sebenarnya saya agak lupa kapan terakhir saya menangis sampai berita duka ini datang untuk mengingatkan saya betapa kematian adalah hal yang pasti dan kehilangan itu mutlak layaknya kedatangan. saya berfikir mungkin ini memang jalan Paman agara tidak terlalu lama berkutat dengan hiruk pikuk dunia yang memabukkan ini. ingatan saya kembali mengingat saat (terakhir) paman menelpon untuk menanyakan kabar *nangis* . sudah lama memang tapi saya dapat mengingat setiap kata-kata terakhir yang ditawarkan Paman dengan ketulusannya untuk menelpon keponakannya ini.
Selamat Jalan Paman, kemiskinan kenangan yang kita buat semoga memperkaya rasa sayang ku kepada mu dan kepada Allah SWT.
RIP : Erwin Effendi 2 Desmber 2011 :"(
Comments
Post a Comment