Menghakimi terlalu pagi

       Kisah ini saya dapatkan saat membaca buku cacing dan kotorannya yang kedua. Tersebutlah ada seseorang pemuda yang mengalami mati suri. Setelah malaikat melihat didaftar orang yang meninggal hari itu, ternyata pemuda tadi belum terdaftar. Sehingga pemuda tadi dikembalikan ke bumi. namun sebelum ia kembali, ia diperkenankan untuk melihat cara malaikat bekerja.

        "Dalam sebuah ruangan luas, ramai terdapat banyak orang yang baru saja meninggal dan beberapa malaikat. Saat salah satu orang yang telah meninggal ditanya oleh malaikat ternyata ia tidak mengakui perbuatannya. Bahkan setelah ia mati, ia masih saja berbohong. Sementara malaikat berurusan dengan orang tersebut, datanglah petani yang baru saja meninggal. Tanpa ikut mengantri dan ditanya-tanyai oleh malaikat, petani tersebut langsung diperintahkan malaikat untuk langsung ke surga. Pemuda yang mati suri pun terheran dan langsung bertanya kepada malaikat. "mengapa petani itu tidak kau tanya-tanyai dan kau hukum wahai malaikat ?" tanya pemuda, malaikat pun menjawab "petani itu semasa hidupnya tidak pernah menghukum sesama makhluk ciptaan Tuhan, baik melalui pikiran, tindakan serta perbuatannya. Maka kami tidak berhak menghukumnya."

       Cerita ini begitu singkat, namun mampu membuka seluas-luasnya pikiran dan cara pandang kita terhadap orang lain. Saya mungkin salah satunya yang selalu menghukum orang. Si ini begini, si itu begitu, dan sebagainya. Seakan saya adalah yang paling sempurna. Inilah penyakit saya, terlalu dini menyimpulkan, menghakimi orang. Tapi tak mengapa, dalam potongan cerita yang lain, Ajahn mengatakan kalau memiliki kesalahan maka yang perlu dilakukan hanya tiga hal AFL (Admit, Forgive, and Learn): Akui, maafkan, dan belajarlah sebanyak-banyaknya darinya!


Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?