Dan Hidup, Dan Abu-abunya

Sudjiwo Tedjo, Presiden Jancukers yang dipuja oleh rakyatnya itu pernah ngomong waktu kenduri cinta bareng Cak Nun, "apa yang aku ucapkan malam ini hanyalah lautan sampah, samudera sampah, kalian para pemerhati, penggali informasi, pencari ilmu lah yang wajib menemukan mutiara diantara samudera ini." Begitu katanya. Agaknya aku berhasil menemukan mutiara ku dalam samudera pemikiran dan gagasan sang Presiden. Pertama, Tuhan itu maha paradoks. Ia menciptakan oksigen untuk kita bernafas, tapi karena oksigen juga terjadi proses penuaan. Tuhan menciptakan cinta, tapi dari banyak kejadian, kejahatan sering kali terjadi atas nama cinta. Tuhan benar-benar maha Paradoks. Kedua, Budha akan menjadi agama masa depan menurut Einsten. Tapi saya lupa penjelasannya soal ini. Ketiga, ia (Sudjiwo Tedjo) begitu menikmati membaca apapun yang ia sendiri tak tau isinya. Bukan hanya membaca, tapi juga mendengarkan. Baik lagu, kitab, bahkan Al-quran. Menurutnya, titik derajat tertinggi dari cinta adalah saat kau tak tau dan tak paham apa yang kau kerjakan, tapi tetap sudi dan rela melakukannya. Baginya, jika kita sudah tau akan dapat apa dan mengerti apa yang kita kerjakan, maka mungkin itu cinta. Tapi ada yang lebih tinggi daripada itu derajatnya. Yaitu saat kau mengerjakan sesuatu yang tak kau pahami, dan kau tetap menikmatinya.

Mungkin belio ada benarnya. Mungkin itulah mengapa hidup kita begitu abu-abu. Dan harusnya dalam ke abu-abuan itu kita bisa menikmati setiap inci maju mundurnya. Tiap depah naik turunnya. Tiap jengkal susah mudahnya. Dan tiap-tiap lainnya yang saling berlawanan kutub.

Biarlah. Seandainya hidup ini memang begitu abu-abu, tolong semesta ajarkan untuk bisa mengalir bersamanya. Tak perlu memperindah warnanya. Cukup abu-abu saja yang mengajarkan bahwa semuanya memang saling bersinggungan. Degradasi hitam-putih itu justru yang mampu memberikan warna lain yang kini sangat kusukai,ku-favoriti.

(ditulis di kantor Plaza Central lt 17 sementara menunggu berbuka, 2 ramadhan 1437-Minggu kedua Juni 2016)

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?