Sedang Tuhan Pun Cemburu
Dear my Best Friend Reza Rahmadillah
Apa kabar bro ?
sehat aja kau kan ?
Gemana hidup ?
I know it's getting harder everytime i tried to get up.
Tapi kau selalu ngajarkan aku buat nda boleh ngeluh.
Setidaknya untuk tidak mengumbar keluhan apalagi bangga sama keluhan.
Tapi aku tidak setuju pada beberapa derajat dan titik soal ini.
Bagiku mengeluh itu wajar dan sah saja.
Itu membuktikan kita adalah manusia biasa
jauh dari sempurna dekat dengan hina.
Tapi nda papa bro, pada beberapa pernyataan maupun tindakan tak jarang juga kita bersebrangan.
Tapi bagikut itulah seni pertemanan. Hmm maksudku persahabatan.
Ah apapun itulah, Toh apapun namanya itu hanya buatan manusia.
Bukankah esensi dari hidup adalah bagaimana kita menjalaninya. Soal nama, ah itu urusan dunia ketiga mungkin.
Bro, masalahku mungkin nda seberat masalahmu.
Tapi cara mu ngelewati masalah nda bisa ku sepelekan.
Dalam hal apapun, dengan cara apapun kau ngajarkan aku banyak hal.
Sadar maupun tidak.
Dalam berbagai keputusan ku pun sering kali kau kulibatkan.
Seringkali juga aku mengutuk waktu yang membuat kita terlalu jauh buat sekedar berbagi.
Berbagi apa saja, just like old day.
Makanan, uang, ilmu, pengalaman, hingga masalah semuanya kita bagi.
Sama, setara, serasa.
Betapa mudahnya dulu kita berbagi cerita soal apa kegiatan kita hari itu, bagaimana kita menjalaninya.
Dan ini yang paling aku rindukan Ja!
This is what i miss the most !
Pada pertengahan 2010-an, awal aku kuliah di Yogyakarta.
Pertama kali kita berada dalam ruangan kecil berukuran 2 x 2,5m yang biasa disebut kamar 6. Berdua.
Terletak di balik gedung-gedung yang perlahan tumbuh di utara pasar Kranggan.
Asrama Mahasiswa Kalimantan Timur Mangkaliat kita deklarasikan sebagai identitas kita.
Dalam payung asrama inilah terlalu banyak cerita yang masih kuingat tiap lekuk dan patahannya.
Ronda, tadarusan, yasinan, rapat mingguan, rapat bulanan, uang iuran, kerja bakti, sarah sehan, debat, piket.
ah terlalu kuingat untuk bisa kulupakan semuanya. Tapi ya suatu saat itu juga akan terlupakan. Tapi ya nda papa, just like you said, semuanya memang sementara.
Pada ruang 2 x 2,5m inilah kita sama-sama punya gagasan soal apa saja.
Hidup, mati, surga, neraka, Tuhan, filsafat, ilmu, mimpi, akhirat, teori-teori besar, tokoh-tokoh besar, buku, cinta semuanya kita bahas.
Tanpa pretensi, tanpa penetrasi.
Aku yakin kita semua tulus berbicara soal apa saja saat itu.
Sampai sekarang pun, tak pernah kutemui perjalinan setulus ini.
Tentang ke-sok tau-an kita soal bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.
Tentang ke-tinggi-an kita menghakimi cara orang menjalani hidup.
Tentang aliran musik kita yang paling benar dan enak didengar.
Kita adalah pengatur semesta.
Tidak tidak, kita pembuat semesta kala itu.
We create our own very universe !
Oh man, i really miss that momment.
Satu lagi Ja, kalau kau berfikir aku menulis ini karena aku tidak bisa melepaskan masa lalu.
Mungkin ada benarnya.
Tapi sejujurnya aku menulis ini hanya untuk mengingat sebegitu banyaknya hal yang sudah kita lalui dalam hidup ini.
Tidak ada hal yang tidak kutau dalam hidupmu, pun begitu dengan kau.
Semua hal kita bagi.
Literally at all.
Dan tidak perlu momen spesial untuk menulis ini, apalagi kalau kau berfikir ini aku buat untuk Ulang tahunmu di 10 Juni nanti -yang selalu kau rahasiakan itu-
Kau salah Ja.
Untuk menulis tiap yang pernah terjadi dalam kehidupan kita, aku pikir tidak butuh momen spesial.
Karena kita adalah spesial itu sendiri.
Terima kasih sudah menjadi Guru dalam hidupku Ja.
You are the best thing that ever happened to me.
(and i hope me too)
*judul murni diambil dari judul buku Cak Nun dengan judul yang sama.
Apa kabar bro ?
sehat aja kau kan ?
Gemana hidup ?
I know it's getting harder everytime i tried to get up.
Tapi kau selalu ngajarkan aku buat nda boleh ngeluh.
Setidaknya untuk tidak mengumbar keluhan apalagi bangga sama keluhan.
Tapi aku tidak setuju pada beberapa derajat dan titik soal ini.
Bagiku mengeluh itu wajar dan sah saja.
Itu membuktikan kita adalah manusia biasa
jauh dari sempurna dekat dengan hina.
Tapi nda papa bro, pada beberapa pernyataan maupun tindakan tak jarang juga kita bersebrangan.
Tapi bagikut itulah seni pertemanan. Hmm maksudku persahabatan.
Ah apapun itulah, Toh apapun namanya itu hanya buatan manusia.
Bukankah esensi dari hidup adalah bagaimana kita menjalaninya. Soal nama, ah itu urusan dunia ketiga mungkin.
Bro, masalahku mungkin nda seberat masalahmu.
Tapi cara mu ngelewati masalah nda bisa ku sepelekan.
Dalam hal apapun, dengan cara apapun kau ngajarkan aku banyak hal.
Sadar maupun tidak.
Dalam berbagai keputusan ku pun sering kali kau kulibatkan.
Seringkali juga aku mengutuk waktu yang membuat kita terlalu jauh buat sekedar berbagi.
Berbagi apa saja, just like old day.
Makanan, uang, ilmu, pengalaman, hingga masalah semuanya kita bagi.
Sama, setara, serasa.
Betapa mudahnya dulu kita berbagi cerita soal apa kegiatan kita hari itu, bagaimana kita menjalaninya.
Dan ini yang paling aku rindukan Ja!
This is what i miss the most !
Pada pertengahan 2010-an, awal aku kuliah di Yogyakarta.
Pertama kali kita berada dalam ruangan kecil berukuran 2 x 2,5m yang biasa disebut kamar 6. Berdua.
Terletak di balik gedung-gedung yang perlahan tumbuh di utara pasar Kranggan.
Asrama Mahasiswa Kalimantan Timur Mangkaliat kita deklarasikan sebagai identitas kita.
Dalam payung asrama inilah terlalu banyak cerita yang masih kuingat tiap lekuk dan patahannya.
Ronda, tadarusan, yasinan, rapat mingguan, rapat bulanan, uang iuran, kerja bakti, sarah sehan, debat, piket.
ah terlalu kuingat untuk bisa kulupakan semuanya. Tapi ya suatu saat itu juga akan terlupakan. Tapi ya nda papa, just like you said, semuanya memang sementara.
Pada ruang 2 x 2,5m inilah kita sama-sama punya gagasan soal apa saja.
Hidup, mati, surga, neraka, Tuhan, filsafat, ilmu, mimpi, akhirat, teori-teori besar, tokoh-tokoh besar, buku, cinta semuanya kita bahas.
Tanpa pretensi, tanpa penetrasi.
Aku yakin kita semua tulus berbicara soal apa saja saat itu.
Sampai sekarang pun, tak pernah kutemui perjalinan setulus ini.
Tentang ke-sok tau-an kita soal bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.
Tentang ke-tinggi-an kita menghakimi cara orang menjalani hidup.
Tentang aliran musik kita yang paling benar dan enak didengar.
Kita adalah pengatur semesta.
Tidak tidak, kita pembuat semesta kala itu.
We create our own very universe !
Oh man, i really miss that momment.
Satu lagi Ja, kalau kau berfikir aku menulis ini karena aku tidak bisa melepaskan masa lalu.
Mungkin ada benarnya.
Tapi sejujurnya aku menulis ini hanya untuk mengingat sebegitu banyaknya hal yang sudah kita lalui dalam hidup ini.
Tidak ada hal yang tidak kutau dalam hidupmu, pun begitu dengan kau.
Semua hal kita bagi.
Literally at all.
Dan tidak perlu momen spesial untuk menulis ini, apalagi kalau kau berfikir ini aku buat untuk Ulang tahunmu di 10 Juni nanti -yang selalu kau rahasiakan itu-
Kau salah Ja.
Untuk menulis tiap yang pernah terjadi dalam kehidupan kita, aku pikir tidak butuh momen spesial.
Karena kita adalah spesial itu sendiri.
Terima kasih sudah menjadi Guru dalam hidupku Ja.
You are the best thing that ever happened to me.
(and i hope me too)
*judul murni diambil dari judul buku Cak Nun dengan judul yang sama.


Comments
Post a Comment