Me and Citra meet the stranger and it was fun.



Minggu, sept 4 2016 – Stasiun Sudirman, Jakarta – 11.23 AM…
Hari ini saya berniat mengantarkan Citra ke UI Depok. Jadwal rutinnya untuk latihan tari disana. Semua sama saja seperti sebelumnya. Tapi sebelum saya dapat kereta, ada seorang yang menghampiri. He’s just completely strangers. Datang kepada saya, wajah bingung lengkap dengan keringat jagung pada sisi wajah.
”Excuse me” begitu sapanya
Saya yang sebelumnya ngobrol-ngobrol ringan dengan Citra pun agak kaget.
Cepat saya sadar sambil menjawab, “Yes can I help you ?”
“oh please”, si bule bingung balik menjawab.
“and what is that ? ” saya menimpali
“I need to go to Cawang” seraya ia menunjukan secarik kertas berisikan semacam tempat yang harus ia tuju.
“oh I can help you. We are on the same train. It’s okay, we’re heading to the same destination” saya jawab demikian agar ia tidak panik.
“oh okay then, thank you”. Terdengar begitu ia menjawab tapi terdengar samar karena bersamaan dengan jawabannya kereta dengan tujuan stasiun Bogor pun datang.
“you are welcome man. And this is our train” saya jawab demikian sambil menarik tangan Citra dan menaikkan kening ke arah si Bule.

Sesingkat itu saya kira, ternyata…
Didalam kereta ke arah Bogor yang lumayan penuh di hari Minggu. Saya bergelantungan pada pegangan kereta yang agak tinggi. Citra sibuk berpegangan pada saya. Si Bule yang berpostur lebih tinggi dari orang Indonesia kebanyakan terlihat santai dengan pegangan yang begitu pas dengan posturnya. It’s seems like it build for them. The hanging hand set for them I guess.
Dimulai dari masuk kereta yang lumayan penuh itulah si Bule akhirnya bercerita soal tujuan dia datang ke Indonesia, apa tanggapannya kepada Indonesia dan mengapa dia memilih saya untuk ditanya.
Beliau berumur sekitar 50-60 tahun. Datang ke Indonesia sendiri. Ia berasal dari Taiwan. Dalam perjalanan dan sama-sama tersesat ia bertemu dengan another stranger berasal dari Hongkong. Dalam kebetulan itu, mereka yang bahasanya 11-12 memutuskan untuk tersesat bareng. Tapi si Bule yang dari Hongkong adalah tipe Bule pasif. Sesekali saja dia berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti ditambah dengan bisingnya kereta. Bukan perpaduan yang pas memang. Tapi Si Bule Taiwan selalu bersemangat untuk mencari topic pembicaraan. He seems always set conversation to Me and Citra.
Yang saya ingat, terakhir saya tes TOEFL adalah sebelum masuk kuliah. Dan itu berarti sudah 6 tahun yang lalu. Bukan, bukan kadaluarsa lagi namanya. Super-duper kadaluarsa. Tapi saya memang suka menonton film asing ditambah suka dengan musik-musik asing. Dan saya pikir tes TOEFL bukanlah satu-satunya syarat untuk dapat in set a conversation with stranger or maybe foreigner. Keberanian juga penting dalam memulai pembicaraan.
Belakangan saya tahu dari si Bule Taiwan bahwa si Bule Hongkong memang tidak lancer berbahasa Inggris. Dia bercerita bahwa ia sedang dalam perjalanan bisnis ke Indonesia. Dan sudah di Indonesia 2-3 hari sebelumnya. Minggu adalah hari terkahirnya di Indonesia dan Ia harus bertemu dengan rekanan bisnisnya di daerah Cawang.
Indonesia adalah Negara yang ramah. Sangat ramah. Ia begitu terkesan dengan dua hal:
Pertama, cara orang Indonesia memberikan kembalian dengan dua tangan. Dia begitu merasa dihargai. Dan itu tidak hanya ia temui pada satu dua tempat tapi hampir di semua tempat.
Kedua,  cara orang Indonesia selalu berusaha membantu orang asing. Mungkin tidak semua, tapi Ia begitu terkesan dengan itu. Banyak yang tidak mengerti bahasa si Bule, tapi kita, orang Indonesia selalu memberikan effort lebih untuk membantu. Misalnya dengan menyarankan si Bule bertanya dengan orang yang lebih paham, minimal membantu dengan gesture. And it works menurutnya.

Sebelum turun dari kereta sekitaran stasiun Tebet…
“you should travel. Explore the world while you are young” katanya optimis.
“I can see in your eyes, you are honest man. I can trust you easily. I used to travelled all around the world. And your eyes tell me something that you will be success man” dia menyambung kalimatnya, tak memberi ruang untuk saya bahkan untuk sekedar bilang terima kasih.
“and maybe when you come to visit me in Taiwan, I can show you what I’ve got in my ages. That’s why you should come. And meet my family. Anyway I am 60 years old and already have grand son. Two grand son that very cute. I teach them to never afraid of the world. Hahahha” begitu dia menyambung dengan semangat yang sama ketika kami sama-sama masuk kereta.

Pengumuman bahwa kereta sudah hampir tiba di stasiun Cawang sudah terdengar. Kereta mulai diperlambat. Itu merupakan perjalanan yang menyenangkan antara sudirman-cawang.

“oh my God, how bad I am. I didn’t tell you my name and my friend’s name. I am sorry, this my name card. And my name is Lin. Yusuf Lin. And I am moslem. Wasalamualaikum” begitu jawabnya sambil menjabat tangan saya dan Citra seraya keluar dari kereta.

Saya dan Citra baru saja mengalami kejadian luar biasa. Dan saya harus menulis ini untuk diabadikan. Mungkin Tuhan sedang punya rencana paling baik buat saya pribadi. Saya ulangi Paling baik. Terlepas dari kejadian itu, hari minggu kemarin benar-benar minggu yang menyenangkan. Ada mozaik-mozaik kecil dalam hidup saya yang awalnya berantakan, perlahan-lahan mulai ‘disusun’ oleh Tuhan.

Ada begitu banyak potongan-potongan kita sebagai manusia yang memang berantakan. Kita sebagai manusia mungkin tidak selalu punya daya kekuatan untuk menyusunnya, atau minimal merapikannya. Tapi dari kejadian ini saya seolah meyakini bahwa ada sesuatu diluar saya yang ‘bekerja’ untuk saya. Berusaha memenuhi kebutuhan saya dengan caraNya. Tugas saya mungkin ‘hanya’ berusaha dan berdoa. Karena jawabannya sudah Dia siapkan, mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi pasti ia adalah waktu yang tepat. Saya sendiri tidak pernah menyangka bertemu dengan Bule Taiwan didalam kereta, bercerita dengan bahasa inggris dan terlebih lagi ia adalah seorang Muslim. Tidak pernah saya membayangkan hal se-fairy tale itu. Bahkan untuk kerja di Jakarta saja tidak pernah terlintas dalam pikiran. Tapi ya begitulah cara kerja Tuhan. Misterius. Penuh kejutan dan datang dari tempat yang tidak disangka-sangka.

Just, always positif thinking. do your best, let God do the rest. We all know, God never sleep.


Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?