Gelapnya The New Singapore-Ku
Pagi ini, saya untuk kesekian kalinya
membuka mata dan terbangun di Kota Hujan, Bogor. Kota angkot juga katanya. Kota
yang sejuk, belum se-riweuh Jakarta
dan mungkin sedikit banyak memiliki beberapa kesamaan dengan kampung halaman
saya, Tarakan. Kesamaan itu –menurut saya- karena Bogor & Tarakan adalah
kota yang sama-sama sedang membangun. Bogor dan Tarakan juga sama-sama dekat
dengan ibukota. Bedanya, Bogor dekat dengan Ibukota Negara, sedangkan Tarakan
dekat dengan Ibukota provinsi, Kaltara (Kalimantan Utara).
Sebagai kota
‘pendukung’ Jakarta, mau tidak mau, Bogor juga harus bisa mengimbangi
pertumbuhan Jakarta yang signifikan beberapa tahun belakangan.
Tidak hanya dari segi infrastruktur tapi juga dari segi pembangunan manusianya
–isu yang laku dijual belakangan ini-. Pilihan ini membuat Bogor juga harus
ber-negosiasi dengan beberapa pihak diluar dirinya soal apa saja: pemerintahan,
retribusi, keamanan hingga pelayanan. Ide “JABODETABEK” memang sudah lama kita
dengar. Ide ini memungkinkan daerah-daerah yang ada didalamnya bisa saling
bekerja sama dalam memajukan daerahnya masing-masing tapi dengan visi untuk
ber-integrasi. Ini kemudian yang menjadi kata kuncinya. Kegiatan yang integral
ini memungkinkan daerah bisa saling mendukung perekonomian masing-masing. Kata
kunci selanjutnya adalah faktor pengikat. Jakarta bisa jadi adalah faktor
pengikat dari berdirinya ide ini. Sehingga tujuan terintegrasinya daerah-daerah
itu adalah mendukung & menopang kegiatan perekonomian si Ibukota. Bogor
dalam hal ini, sedikit banyak pembangunannya adalah pembangunan yang menopang
perekonomian si Ibukota tadi, bahkan cenderung bersaing –dengan daerah lain
seperti Bekasi. Depok & Tangerang- untuk sama-sama menuju perekonomian yang
lebih baik lagi. Artinya baik Bogor maupun daerah-daerah penopang Ibukota
mempunyai tujuan terhadap pembangunannya. Tujuan ini penting, mengingat setelah
disepakati tujuannya, arah pembangunan harusnya mampu mendukung tercapainya
tujuan tersebut.
Selain JABODETABEK, ada juga konsep memajukan daerah
dengan nama KARTAMANTUL (Yogyakarta, Sleman & Bantul). KARTAMANTUL
merupakan gagasan untuk mengatasi masalah sampah di 3 kabupaten/Kota di
provinsi DIY yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman & Kabupaten Bantul[1]. Ketiga daerah berkomitmen
untuk melakukan kerja sama tidak hanya membagi tugas diantara ketiga daerah
tersebut, tapi juga bisa membagi keuntungan –dalam berbagai bentuk- dari proyek
tersebut. Permasalahan yang nampaknya sulit diselesaikan oleh satu daerah
ternyata bisa diselesaikan oleh daerah lain. Dan sebaliknya. Teratasinya
masalah sampah ini kemudian membuat ketiga daerah mampu lebih berkonsentrasi
terhadap pertumbuhan ekonominya.
Dalam bidang pariwisata, tengoklah Kota Malang, Kabupaten
Malang & Kota Batu (Malang Raya) dalam mengelola kebutuhan masing-masing
daerahnya, salah satunya adalah pariwisata[2]. Kota Batu dinobatkan
sebagai Kota wisata, namun Bandara & penginapan ada di Malang. Bagaimana
kemudian pemerintah dan private sector
bekerja sama ‘mengatur’ wisatawan yang hendak wisata ke Kota Batu harus
menginap di Kota Malang. Wisatawan diajak untuk ‘adil’ membelanjakan uangnya
untuk ketiga daerah tersebut.
Bagaimana dengan Tarakan ? apakah ide ini relevan dengan
pembangunan Tarakan ? Bisa jadi, tapi memang memerlukan riset dan penelitian
yang mendalam. Dan yang tidak kalah penting: faktor pengikat. Tarakan dan Kabupaten/Kota
disekitarnya harus punya faktor pengikat, misalnya pariwisata. Bagaimana
misalnya, Tarakan yang punya Bandara, Kabupaten Bulungan & Kabupaten Malinau
yang punya kebudayaan & objek wisata, bisa saling mendukung perekonomian
masing-masing.
Argumennya jelas, Tarakan & daerah sekitarnya harus
punya tujuan yang hendak dibangun bersama dengan adanya faktor pengikat
tersebut. Kemudian, pembangunan menjadi punya arah. Banyak hal yang dikerjakan kemudian
mendukung pertumbuhan pariwisata dan peningkatan wisatawan, misalnya. Sehingga
kemudian kesepakatannya adalah, Tarakan yang menyediakan sarana akomodasi &
transportasi untuk wisatawan, sedangkan Bulungan dan Malinau yang menyediakan
objek wisatanya. Maka bentuk bangunan yang banyak ditemukan di Tarakan adalah
hotel, penginapan atau mungkin tempat perbelanjaan terpadu. Perbaikan sarana
transportasi umum, peningkatan pelayanan kesehatan juga mutu pendidikan adalah
macam-macam program yang arahnya menyiapkan Tarakan sebagai kota pendukung
yang: bagus sarana transportasi umumnya, sehat warganya serta siap bersaing
dengan SDM dari daerah sekitarnya.
Dari berbagai macam bentuk kerjasama yang sudah diceritakan
itu, kita berharap pihak-pihak terkait semakin menyadari pentingnya kerjasama
antar-daerah. Selain bisa mempererat hubungan antar-daerah juga bisa
menyelesaikan masalah dan potensi masalah yang akan muncul dikemudian hari.
Hilirnya tentu saja peningkatan pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah.
Namun, semua ide, gagasan dan cita-cita ini tetap akan
menjadi wacana jika pemerintah dan pihak terkait tidak mau berkomitmen untuk
menyelesaikan masalah-masalah mendasar kota berkembang. Seperti, keamanan,
kesehatan, pendidikan dan yang tidak kalah penting adalah ketersediaan air
bersih & listrik. Saya percaya, jika permasalahan mendasar ini bisa
diselesaikan dengan baik, maka predikat “The New Singapore” sudah tinggal
menunggu waktu.
*Tulisan ini dimuat di SKH Radar Tarakan Edisi 6 Februari 2017 di kolom Opini hal 6
[1]
http://kartamantul.jogjaprov.go.id/ - diakses pada
selasa 31 Januari 2017 pukul 15.18 WIB
[2]
http://ronikhoi.blogspot.co.id/p/malang-raya.html
- diakses
pada selasa 31 Januari 2017 pukul 15.18 WIB
Comments
Post a Comment