Menakar Kembali Peran Pemuda Tarakan
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: kapan terakhir kali pemuda-pemudi Tarakan memiliki prestasi di tingkat Nasional atau Internasional ? jika jawabannya sudah lama, atau bahkan tidak tahu, maka ada yang salah dengan pemuda-pemudi Tarakan belakangan ini. Sebelum masuk mengenai itu, saya ingin kita sama-sama merefleksikan soal tiga peristiwa bersejarah yang sering kita baca sejarahnya.
Peristiwa pertama: Oktober 1928, dilaksanakan sumpah pemuda yang masih kita peringati dan nikmati manifestasinya hingga sekarang. Momentum ini, tidak hanya menjadi tonggak awal identitas nasionalis kita, tapi juga awal gerakan meng-Indonesia. Pada dimensi ini, sisi emosional pemuda-pemudi yang berasal dari beragam suku & latar belakang sepakat untuk menjadi Indonesia, meninggalkan sekat-sekat primordialisme menuju identitas barunya sebagai sebuah bangsa. Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon dan organisasi kedaerahan lainnya melebur dan bersumpah untuk mengakui bangsa, bahasa dan tanah air yang satu: Indonesia.
Peristiwa kedua: Agustus 1945, kekalahan Jepang yang telah menguasai Indonesia menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Adanya perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda soal kapan seharusnya membacakan proklamasi mengakibatkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Golongan muda ingin Dwi-tunggal segera membacakan proklamasi kemerdekaan, sementara golongan tua memilih untuk ‘mengkonfirmasi’ terlebih dahulu soal kekalahan Jepang dari sekutu. Peristiwa rengasdeklok menjadi potret sejarah yang lagi-lagi mengukuhkan peran pemuda dalam roda sejarah Indonesia. Yang pada akhirnya ‘sedikit memaksa’ Dwi-tunggal untuk membacakan proklamasi kemerdekaan, yang juga bisa kita nikmati sekarang ini.
Peristiwa ketiga: Mei 1998, peran mahasiswa dan pemuda-pemudi Indonesia-lah yang justru melahirkan reformasi setelah berhasil menjatuhkan presiden kedua RI, Soeharto. Terlepas dari konteks politik soal tarik-menarik didalam lingkaran istana kala itu, namun yang lagi-lagi perlu di tekankan adalah bahwa ada campur-tangan pemuda-pemudi Indonesia dalam peristiwa bersejarah itu.
Ketiga peristiwa itu mungkin mudah kita ingat dan bayangkan. Namun sedikit dari kita yang memaknai bahwa peran pemuda-pemudi dalam mencetak sejarah Indonesia sangatlah besar. Bahkan, Soekarno sudah memprediksi kekuatan sebenarnya dari pemuda dan terkenal dengan kutipan “berikan aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia”. Peran pemuda-pemudi itu, akan bisa optimal dan berfungsi dengan baik manakala pemuda-pemudi-nya memiliki kesadaran akan perannya tersebut. Ketiga peristiwa itu pula, jika coba kita kaitkan dengan konteks masa kini –terutama di Tarakan- maka pesannya yang kemudian muncul adalah seberapa besar peran pemuda Tarakan dalam arus pembangunan di Kota ini ?
Tulisan ini tentu saja bukan hendak membuat pemuda-pemudi menjadi pesimis, justru ini adalah pesan optimis untuk pemuda-pemudi Tarakan untuk, setidaknya: sadar akan perannya, memiliki ide & gagasan yang orisinil serta mampu bersaing dengan pemuda-pemudi lain. Bahwa ketiga peristiwa yang telah dinarasikan diatas didasari oleh ide & gagasan dari pemuda-pemudi Indonesia yang harusnya bisa kita teladani sebagai ikhtiar kita mencapai Tarakan yang Bersih, Aman, Indah, Sehat & Sejahtera (BAIS).
Pertama: Pemuda-pemudi Tarakan harusnya sadar akan perannya sebagai bagian dari pembangunan Tarakan. Kesadaran ini ditandai dengan aktif berkontribusi terhadap pembangunan di kota Tarakan. Konkritnya, pemuda-pemudi Tarakan harus terlibat aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan di Tarakan. Salurannya bisa bermacam-macam, baik individual, organisasional maupun institusional. Dilain sisi, kita sebagai pemuda-pemudi Tarakan secara tidak langsung adalah duta untuk mempromosikan kota Tarakan. Hal ini akan tercapai manakala pemuda-pemudinya juga aktif dalam forum-forum tingkat regional, nasional bahkan internasional. Ini merupakan ‘saluran’ yang efektif namun jarang diperhitungkan dalam mempromosikan kota Tarakan. Yang penulis, jadilah penulis yang bisa mewakili Tarakan. Yang peneliti, jadilah peneliti yang mengharumkan nama Tarakan. Yang youtuber atau vlogger promosikanlah Tarakan. Sehingga Tarakan bisa semakin dikenal dengan baik oleh banyak orang.
Kedua: Sebagai pemuda-pemudi yang memiliki ide & gagasan yang segar, kita harusnya mampu dan aktif memberikan terbosan baik berupa kritik, saran maupun solusi terhadap Tarakan hari ini. Pemuda-pemudi Tarakan harus mempertahankan budaya berfikir kritis. Bagi saya, perbedaan pendapat –bahkan debat- antar pemuda-pemudi Tarakan merupakan gejala baik yang mengindikasikan : pertama kritisnya cara berfikir pemuda-pemudi Tarakan, kedua bentuk kepedulian Pemuda-pemudi Tarakan terhadap kotanya. Hal ini harusnya bisa diapresiasi, jika perlu disediakan forum diskusi antar pemuda-pemudi Tarakan, yang tujuannya selain silahturahmi dan sarana diskusi juga bisa menjadi masukan dan solusi alternatif terhadap permasalahan yang terjadi di Tarakan hari ini. Selain itu, terkait ide dan gagasan yang orisinil, pemuda-pemudi Tarakan hari ini harusnya mampu berkarya menciptakan sesuatu –baik ide, benda, lapangan pekerjaan- yang inovatif dan mampu bersaing dengan pe-karya lain. Kita harus menemukan passion kita, berkarya dijalur itu dan harumkan nama Tarakan dikancah Nasional maupun Internasional melalui passion itu.
Ketiga: pemuda-pemudi Tarakan idealnya juga harus siap bersaing dengan pemuda-pemudi lain, baik dari lingkup Nasional maupun internasional. Kesiapan ini meliputi banyak hal diantaranya pendidikan yang baik, keahlian dalam bidang tertentu, karekter yang kuat serta kepribadian yang mampu dan siap bersaing. Yang tidak kalah penting tentu saja melatih mental pemenang. Mental pemenang merupakan kemampuan untuk siap menerima kemenangan sekaligus siap menerima dan mengambil pelajaran dari kekalahan.
Pada akhirnya, ide mengenai peran ideal pemuda-pemudi Tarakan diatas harusnya bisa membuat kita tergerak dan bertanya kepada diri kita masing-masing perihal: apa yang sudah kita lakukan terhadap Tarakan, ingin dikenal sebagai apa pemuda-pemudi Tarakan dikemudian hari, serta prestasi apa yang ingin diukir dikemudian hari.
Sebagai penutup, saya ingin memberikan kutipan dari seorang tokoh nasional berikut: “Kalau kemerdekaan Indonesia waktu itu hanya program pemerintah, maka yang perang cuma tentaranya, pemuda-nya hanya jadi penonton. Tapi nyatanya tidak, justru banyak juga pahlawan datang dari kalangan pemuda”.
Tulisan ini dimuat di Radar Tarakan, edisi Selasa 21 Februari 2017
Comments
Post a Comment