Komunitas Tarakan Berbagi

“Komunitas Tarakan Berbagi”

Itu nama yang pada akhirnya mengemuka setelah melalui proses singkat, yang mungkin akan mengubah hidup saya.

Waktu itu bulan puasa, Juni 2016. 25 Juni 2016 tepatnya. Saya yang bekerja pada salah satu perusahaan asing di Jakarta benar-benar dibuat lelah oleh pekerjaan yang bertubi-tubi. Bahkan tak jarang saya sahur sepulang kerja. Itu artinya kepulangan saya dari kantor ke kosan sudah mendekati waktu sahur. Keesokan harinya tetap masuk pukul 08.00 pagi. Sudah selama hampir seminggu polanya seperti itu, puncaknya pada tanggal 25 tersebut.
Hari itu, saya yang biasa mengurus kedatangan barang-barang promosi kedatangan ‘hadiah’ dari Korea berupa CDU (counter display unit). Salah satu barang untuk mendukung promosi di perusahaan tempat saya bekerja. Sudah memang prosesnya, barang-barang promosi yang datang terlebih dahulu dilakukan pengecekan di gudang kami di kawasan Cibitung. Biasanya kalau barang promosi tersebut sifatnya regular, maka saya tidak perlu melakukan pengecekan. Perusahaan menyerahkan kepada pihak gudang di Cibitung tersebut. Namun karena ini merupakan ‘hadiah’ maka saya dan teman-teman yang terlibat langsung. Alhasil, pagi harinya berangkat lah saya ke Cibitung bersama beberapa teman kantor. Prosesnya sungguh melelahkan. “One of my long and tired day”. Jadi kami melakukan serangkaian pengecekan CDU, menghitung jumlah pastinya, memastikan kelistrikannya hingga membuat laporan soal pengecekan tersebut.
Di hari yang sama,faktor kelelahan karena pekerjaan yang tidak habis-habisnya selama seminggu kebelakang juga bersamaan dengan kewajiban berpuasa (yang seharusnya bukan alasan, namun harus saya akui bahwa puasa memang menjadi alasan saya) maka saya sampai kepada pemikiran : “Semua hasil jerih payah saya ini, akan saya gunakan sebanyak-banyaknya untuk keperluan saya. Orang rumah belakangan saja, kalau ada sisanya” Sungguh pemikiran yang aneh dan cenderung ekstrim. Saya malu mengakui bahwa saya pernah berpikir demikian.

Namun Tuhan selalu punya cara unik menyadarkan makhluknya.
Di hari yang sama sekitar pukul 10.00 malam, setibanya di kosan, seperti biasa saya menelusuri media sosial pribadi saya. Sekedar memastikan saya tidak ketinggalan berita (?) dan kejadian-kejadian yang ada pada dunia luar dan orang-orang sekitar. Sampailah saya pada laman media sosial Instagram milik Mas Adji Silarus (sekarang Adji Santosaputro). Beliau adalah praktisi mindfulness. Buku pertama yang ditulis dan mengantarkan saya pada anggukan sepemikiran dengan beliau berjudul “Sadar penuh hadir utuh”. Telah lama saya mengikuti beliau di Instagram. Namun postingan Mas Adji malam itu benar-benar menampar saya ke 180 derajat pemikiran egois sebelumnya.






                Postingan yang nampak sederhana tersebut seolah menyadarkan sekaligus mengajarkan saya bahwa kehidupan yang sederhana jauh lebih pantas untuk saya. Tidak ada gunanya merayakan sesuatu yang harusnya bisa dibagi-sebarkan, seperti –sederhananya- pakaian. Segala keanehan dari cara berfikir saya sebelumnya seolah di-anti-klimaks-kan oleh postingan sederhana Mas Adji tersebut. Mungkin Mas Adji tidak sedang ingin menginspirasi, tapi begitulah semesta bekerja. Mas Adji, mungkin tidak pernah tahu kalau dia sedang menginspirasi. Faktanya, saya merasakan energi positif lewat postingan tersebut.
                Saya lupakan akumulasi lelah seharian bahkan semingguan lamanya saya bekerja. Seolah saya mendapat asupan energi positif baru. Saya buka lemari, kumpulkan baju yang tidak pernah saya pakai, baju yang rencananya akan saya pakai, juga baju yang suatu saat (kayanya) akan saya pakai. Tidak ada gunanya menyimpannya, pikir saya. Akan lebih bermanfaat nampaknya kalau saya membagikan. Toh juga sebentar lagi lebaran. Mungkin baju-baju itu nampak remeh-temeh bagi saya, tapi bagi orang lain ? belum tentu.


                Singkat cerita, tersalurkanlah setumpuk baju tersebut kepada orang-orang yang sekiranya membutuhkan. Lalu apa kaitannya dengan KomunitasTarakan berbagi ?
                Berangkat dari kejadian itu, saya memutuskan untuk mendirikan sebuah komunitas berbagi. Basisnya adalah kedaerahan. Tarakan adalah sebuah kota kecil di Utara Kalimantan. Ide dasarnya, saya tidak ingin teman-teman saya terjebak pada pemikiran egois bahkan cenderung ekstrim seperti yang sudah saya alami. Bagi saya, energi positif yang secara tidak langsung dibagikan Mas Adji lewat postingan itu tidak boleh berhenti di saya. Energi itu idealnya ter-kristalisasi supaya bisa sama-sama dikembangkan, disebarkan, sekaligus ditumbuhkan.
                Tapi kondisinya saat itu (bahkan hingga sekarang) memang jauh dari ideal. Saya bekerja di Jakarta, namun menginginkan Komunitas berbagi yang berbasis kedaerahan. Untungnya budaya bekerja di perusahaan asing tidak mengenal kata mustahil. Bagi mereka, para atasan saya, kata ‘susah’ itu berarti masih ada kesempatan untuk bisa diwujudkan. Tinggal bagaimana kita mau untuk mencobanya. Mulailah saya membuka “line” saya, mengumpulkan teman-teman yang sekiranya bisa diajak berpikir dan bertindak seperti apa yang saya bayangkan dan membuka obrolan soal niatan saya mendirikan komunitas berbagi berbasis kedaerahan. Responnya beragam, banyak yang mendukung tapi juga ada yang pesimis lengkap dengan ‘iming-iming’ kegagalan.
                26 Juni 2016, keesokan hari pasca kejadian postingan tersebut, saya memutuskan untuk mendirikan komunitas berbagi. Komunitas Tarakan Berbagi saya pilih sebagai identitas kami.  Saya berharap Komunitas ini bisa tumbuh dan berkembang sebagai role model-nya Komunitas yang ada di Utara Kalimantan, utamanya di Tarakan. Saya ingin komunitas ini menjadi bagian solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tapi yang jauh lebih penting adalah, saya ingin menyebarkan semangat positif dan semangat berbagi melalui Komunitas Tarakan Berbagi. Hingga suatu saat, anak-anak muda akan senantiasa berfikir bahwa berbagi itu tidak melulu urusan orang kaya. Berbagi itu tidak melulu urusan orang tua. Berbagi adalah urusan orang yang memiliki hati nurani. Karena apa ? karena berbagi itu urusan hati, bukan urusan kepala. Kalau berbagi itu urusan kepala, yang ada hanyalah untung-rugi, bukan bermanfaat-tidak bermanfaat.


#salamberbagi

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?