Behind the Interview
Jumat lalu (27/10) saya berkesempatan diwawancarai oleh Radar Tarakan untuk rubrik Zetizen. Saya dipilih sebagai pendiri dari Komunitas Tarakan Berbagi. Kebetulan tema yang diangkat berkaitan dengan Sumpah Pemuda. Saya memberikan testimoni mewakili KTB dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Keesokan harinya (28/10) kutipan wawancara tersebut terbit. Tapi saya agak heran, kesannya apa yang saya sampaikan dengan apa yang terbit berbeda. Dari segi substansinya terutama. Juga terdapat kesalahan-kesalahan nama. Nama saya, nama komunitas saya, singkatan dari komunitas saya. Semoga tidak ada kesalahan semacam ini dikemudian hari. Juga kepada pewawancara bisa menjadi bahan untuk perbaikan. Berikut saya tampilkan transkrip wawancaranya. Saya buat transkrip wawancara ini karena sebelumnya saya diberikan daftar pertanyaan yang akan diajukan. Jadi saya buatkan semacam panduan menjawab juga.
![]() |
| Terbit pada 28 Oktober 2017 |
![]() |
| Terbit pada 28 Oktober 2017 |
P : Pewawancara
A : Adit
P : Sebagai founder KTB, sebenarnya apa sih yang membuat Mas Adit terpikir untuk membuat komunitas sosial?
A : Saya itu kerjanya jauh dari Tarakan. Jarang pulang juga, nah KTB adalah cara saya berdamai dengan diri saya sendiri atas kebutuhan itu. Saya merasa punya utang aja kalau saya belum berbuat sesuatu untuk Tarakan. Sebenarnya juga tidak harus komunitas sosial. Cuma waktu itu yang ada di kepala saya adalah komunitas berbagi. Berbaginya juga tidak harus materi, tapi juga bisa ilmu, bisa wawasan mungkin juga pengalaman dari mereka-mereka yang berkesempatan kuliah di luar atau pernah merantau dan punya akses-akses lebih terhadap sosio-kultur luar Tarakan. Cerita lain, teman-teman saya itu tersebar dimana-mana dengan berbagai macam disiplin ilmu dan ekspertasinya masing-masing. Saya rasa mereka ingin memberikan sesuatu untuk kotanya, tapi belum punya wadah aja. Belum punya ruang-ruang bergerak kolektif untuk mengantarkan mereka ke tujuannya. Makanya KTB hadir disana.
P : Apakah kegiatannya hanya fokus untuk membantu orang orang tidak mampu?
A : Hmm. Indikator orang tidak mampu itu apa ? hehhehe. Begini, Tarakan hari ini adalah persimpangan isu dengan lalu lintas yang padat. Masing-masing individu atau kelompok memilih kendaraannya sendiri-sendiri. Membantu orang tidak mampu sebenarnya hanya salah satu cara kami saja. Karena sebenarnya semua orang butuh bantuan dengan caranya masing-masing. Juga karena kami tidak ingin terjebak dalam pola pikir demikian. Maksudnya, kami tidak ingin hanya dikenal sebagai "kotak amal". Dimana kami bertugas mengumpulkan uang, lalu membagikan kepada yang membutuhkan. Kami tidak ingin dikenal sebagai "Robin Hood" yang bertugas merampok penguasa-penguasa kaya untuk kemudian memberikan hasil rampokannya kepada orang-orang yang miskin. Kami hadir sebenarnya dengan kesadaran bahwa ada yang salah dengan masyarakat Tarakan belakangan ini. Kita seringkali berkelakar soal di Tarakan tidak ada pengemis, tidak ada orang miskin. Masyarakatnya sejahtera. Padahal, diawal-awal kami berdiri, kami banyak menemukan mereka-mereka yang memiliki keterbatasan yang hidup di tengah-tengah kota. Misalnya di Selumit atau di Karang Balik. Itu tengah kota loh. Tapi poinnya adalah kami hadir sebagai berita kesadaran bahwa ada yang seperti itu juga di Tarakan. Hal lainnya juga, kami sebenarnya punya gagasan soal kelas inspirasi atau kelas mimpi. Isinya adalah anak-anak muda Tarakan yang kami anggap 'berhasil' dalam bidangnya masing-masing. Mereka kami undang ke sekolah-sekolah, berbagi soal pengalaman mereka. Yang pilot cerita soal pilot, yang dokter juga sama.
P : Bertepatan dengan Sumpah Pemuda, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun Indonesia lebih baik, salah satunya dengan menciptakan generasi muda yang saling peduli satu sama lain, nah bagaimana sih Mas Adit memaknai Sumpah Pemuda?
A : Bagi saya memaknai sumpah pemuda adalah memaknai janji yang belum ditepati, memaknai utang yang belum lunas. Sumpah itu dilakukan untuk hal-hal yang belum terjadi, bukan yang sudah terjadi. Sumpah pemuda itu, mirip dengan ijab kabul. Kalau ijab kabul kan semacam janji suami-istri. Untuk saling membahagiakan, untuk tidak menyakiti satu sama lain, suami akan memenuhi kebutuhan istri, menafkahinya lahir & batin. Dan prosesnya seumur hidup. Nda bisa kita ijab kabul, terus semuanya langsung terpenuhi saat itu juga. Nah begitulah sumpah pemuda. Prosesnya seumur hidup.
P : Apa sih cita-cita KTB kedepannya ?
A : Wah agak susah nih. Kami tumbuh dengan segala keterbatasan di sana-sini. Kami punya kesibukan masing-masing. Belum pandai mengelola sumber daya, belum pandai bertanggung jawab pada diri sendiri. Belum mampu kadang mengelola mimpi, masih sering memenangkan ego sendiri. Cukup banyak juga yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari kepengurusan. Saya pribadi tidak pernah memaksa mereka, karena sejatinya KTB adalah ruang. Tugas saya dan teman-teman yang lain memainkan fungsi di dalam ruang itu. Ada yang jadi jendela, ada yang jadi pintu, ada yang jadi kursi. Semuanya punya keunikan masing-masing.
Kami atau saya pribadi seringnya justru terjebak dalam romantisme akan dibutuhkannya kami.Tapi begitulah tarik-ulurnya yang coba kami resapi. Maka ketika ditanya soal apa cita-cita kami ? Rasa-rasanya kami hanya ingin menjadi komunitas, menjadi wadah. Karena mewadahi, menjadi ruang-ruang bergerak, butuh perjuangan. Kalau sekedar menjadi baik, cukup dengan diam sepanjang hari.Pada akhirnya pun, cita-cita terbesar kami adalah dengan tidak dibutuhkannya kami sebagai komunitas. Karena saat cita-cita itu terwujud, kami berharap tak ada lagi cerita soal ketimpangan, kemiskinan, ketidak-mampuan, dan keterbatasan akses-akses pendidikan juga kesehatan penduduk Tarakan.


Comments
Post a Comment