Thai Tea Gaji Pertama, Toko Buku "Post Santa" dan Bukunya Mbak Reda & Soca
Seperti biasa, Mbak Pacar tiba siang itu di Stasiun Sudirman. Agenda dating hari ini sejujurnya adalah ikut diskusi dan pemutaran film dalam acara "Festival Merah Hitam". Saya dapat poster dan beritanya dari linimasa twitter yang dibagikan oleh Mas Bhagavad Sambadha. FMH tahun ini digelar di jalan Guntur, Setia Budi, Jakarta Selatan. Berhubung acaranya agak sore, kami memutuskan untuk ke Plaza Semanggi terlebih dahulu. Jarang memang kami ke mall. Keterpaksaan ini disponsori oleh titipan sepatu bola oleh teman saya di Tarakan. Lagipula, tak ada juga yang membuat kami membenci mall. Kami hanya memilih dan memutuskan untuk tidak ke mall. Setelah keliling dan tak menemukan sepatu yang dititipkan, si Mbak Pacar sesumbar ingin membelikan Thai Tea. Alasannya karena ia baru saja gajian. Si Mbak Pacar sudah hampir sebulan ini bekerja sebagai guru les disebuah lembaga bahasa di Bogor. Sesumbar itu juga karena baru kali ini ia mengajar dan dapat gaji. Sebelumnya si Mbak Pacar hampir tiap minggu juga mengajar secara sukarela di komunitas Fakta Bahasa Bogor.
Singkatnya, terbelilah Thai Tea gaji pertama dan langsung gas tipis-tipis menikmati sorenya Jakarta menuju jalan Guntur, tempat FMH dihelat. Sempat toleh kiri-kanan mencari, akhirnya kami tiba di tempat acara. Lebih tepatnya lewat. Karena kami tidak pernah berhenti. Si Mbak Pacar tampak khawatir dengan suasana FMH sore itu. Maklum, Si Mbak Pacar baru tahu kalau acara FMH adalah acara diskusi yang digelar oleh Komunitas Anarko Indonesia. Jadilah saya tidak menarik rem di tangan, malah menambah gas, bergegas keluar jalan Guntur. (Suasana hitam-hitam, dan bendera khas anarko membuat si Mbak pacar tidak nyaman. Semoga anak anarko yang membaca ini tidak tersinggung. Saya janji, lain kali saya akan lebih jujur soal kalian hahahhaa)
Sore tinggal sedikit, tapi malam masih panjang. Sementara agenda kami sabtu ini adalah menghadiri diskusi itu. Obral-obrol sedikit dengan Mbak Pacar lalu saya teringat ada sebuah toko buku di bilangan Pasar Santa, Jakarta Selatan. Rekomendasi dari Mas Arman Dhani. Kesana kami menuju. Tiba di Pasar Santa, suasananya berbeda dengan dua tahun lalu saat saya pertama kali ke sini. Dulu Pasar Santa ramai, sekarang jauh lebih sepi. Padahal malam minggu baru saja dimulai. Sedikit prihatin tapi rasa penasaran saya jauh lebih besar. Maka kalahlah rasa prihatin itu. Setelah menemukan toko buku itu, akhirnya saya baru ingat kalau namanya adalah "Post". Saya sibuk dan excited dengan buku-buku di dalamnya. Banyak buku-buku yang saya kenal, walaupun belum sempat saya miliki. Buku-buku terbitan MOJOK terutama, lengkap di sini. Juga buku-buku indie lain ada di sini. Post Santa sangat unik, desain interiornya menarik, playlist lagu yang diputar juga enak, pas disajikan dengan ragam buku-buku yang menghiasi dinding-dinding putih bermotif bata-nya. Sehingga siapapun yang datang, betah berlama-lama. Sedikit obrolan dengan Mbak-Mbak di sana, ternyata sering juga ada diskusi soal buku dan workshop menulis. Dalam hati sambil sedikit sesal saya berbisik, "duh kenapa baru sempat ke sini sekarang".
Setelah beberapa kali mengambil buku dan meletakannya, mata saya akhirnya tertuju pada satu buku bersampul jingga. "Aku Meps dan Beps" judulnya. Penulisnya adalah Mbak Reda Gaudiamo dan anaknya Soca. Saya ingat buku ini juga pernah dibahas dan direkomendasikan oleh Mas Arman Dhani dan Mas Bhaga di acara "Paguyuban Pamitnya Meeting". Saya tertarik, Mbak Pacar juga suka, beralihlah buku itu ke tangan kami. Isinya sangat menarik. Diceritakan dengan polos gaya anak seumuran Soca soal kehidupan berumah tangga. Ada anak dan kedua orang tuanya yang sederhana dan hangat sekali rasanya. Membuat kami yang membaca juga ikut-ikutan tertawa merasakan kepolosan Soca, anak kecil yang memanggil ibunya dengan sebutan "Meps" dan ayahnya dengan sebutan "Beps". Unik dan menarik juga menggelitik. Sampai pada satu halaman saat Soca bercerita soal sifat-sifat orang tuanya, pada akhir cerita ada semacam pernyataan yang membuat saya tertawa, diikuti oleh Mbak Pacar, tepat setelah saya tunjukan padanya apa yang membuat saya tertawa. Yaitu soal pernyataan Soca yang tertulis : "Duh Beps, gemana sih istrimu ini"
Membayangkan Soca kecil menulis seperti itu lucu rasanya . Buku Aku, Meps dan Beps adalah kumpulan cerita Soca yang sejak kecil selalu mengekspresikan apa saja yang ada di kepalanya. Apa saja yang ia rasakan, ia dengar dan ia pahami. Kadang Mbak Reda, ibunya, yang membantu mengetikan di komputer, sambil Soca duduk di pangkuannya. Lagi malas katanya. Buku ini juga menarik karena seolah meruntuhkan gagasan patriarki dimana laki-laki bekerja di luar rumah dan perempuan 'hanya' mengurus hal-hal domestik. Beps di mata Soca ternyata adalah teman yang baik. Bagi saya justru ideal sebagai Beps. Mbak Reda mengamini itu waktu diundang di acara Paguyuban Pamitnya Meeting. Dalam buku ini, sosok Beps diceritakan sebagai ayah yang bekerja di rumah dan mengurus hal-hal domestik lainnya. Memasak, mengurus rumah, membuat meja, mengurus anak. Sementara sosok Meps (Mbak Reda) adalah wanita karir di sebuah agen periklanan. Namanya wanita karir, apalagi di agen/media periklanan, lembur adalah hal yang biasa. Dialektika itu juga yang dirasakan dan akhirnya diekspresikan Soca yang begitu senang menyaksikan Meps yang sudah ada dirumah jam tujuh malam dan pernah begitu sedih ketika Meps tidak pulang. Lebih sedih lagi, ketika Beps yang katanya mau menjemput ikut-ikutan tidak pulang.
Menurut saya, buku ini bisa jadi referensi ideal untuk calon Ibu dan Ayah di luar sana yang bosan dengan metode parenting yang itu-itu saja, yang normatif. Pas dibaca sambil pacaran, ditemani teh hangat dan pisang goreng.
Malam itu ternyata panjang. Ditutup dengan rasa senang karena buku itu adalah buku pertama saya dan Mbak Pacar, buku pertama kami. Buku pertama yang kami beli dengan uang kami masing-masing. Malam sedang baik, bulan di langit juga baik, Mbak Pacar juga baik karena Thai tea-nya.
Malam itu ternyata panjang. Ditutup dengan rasa senang karena buku itu adalah buku pertama saya dan Mbak Pacar, buku pertama kami. Buku pertama yang kami beli dengan uang kami masing-masing. Malam sedang baik, bulan di langit juga baik, Mbak Pacar juga baik karena Thai tea-nya.
Selamat Membaca !



Comments
Post a Comment