Kalau Bukan Curhat, Ya Apalagi: Dalam V Babak
Babak I
Meski dekat sebagai hubungan
sebab-akibat antara masakan pedas, berminyak, goreng-gorengan dengan penyakit
radang, ternyata kedua hal itu tak bisa bersahabat. Sudah hampir seminggu ini
saya tersungkur di hadapan penyakit radang tenggorokan. Sudah dua Dokter saya
temui dengan diagnosis yang hampir mirip: “radang tenggorokan kamu sudah
terlalu membengkak, hampir menutupi semua lubang tenggorokan. Makanya kamu jadi
susah makan.” Saya diam-diam mengiyakan dalam hati, seraya mengangguk.
“Jangankan makan, minum saja susah. Eh tunggu ngomong saja susah Dok!” Saya
mengumpat dalam hati. Karena tak mungkin saya lontarkan kalimat itu. Di mana
rasa terima kasih saya pada Dokter tersebut.
Dokter pertama yang saya datangi
adalah Dokter yang tempo hari pernah saya datangi atas penyakit yang sama.
Seorang Dokter yang bisa dikatakan sudah berumur. Membuka praktek di dekat
kosan, sekitaran Kuningan-Setiabudi, Jakarta Selatan. Walaupun sempat disuntik
dan ‘diamanahkan’ obat sebanyak lima macam, dua hari berikutnya saya tak merasa
ada perubahan.
Dokter kedua yang saya datangi
adalah Dokter yang berbeda dari Dokter pertama. Setelah sempat diperiksa dan
didiagnosa, saya lantas memperlihatkan ‘amanah’ berupa lima macam obat dari Dokter
pertama. Setelah dilihat, atau ditelisik lebih tepatnya, sampailah Dokter kedua
pada kesimpulan: “Saya berikan obat yang lebih bagus ya. Tapi kalau sampai obat
ini juga tak mempan, kamu harus periksa ke Dokter THT.” Sambil ia menulis resep
pada sebuah kertas. Saya mengangguk tapi tak ingin setuju rasanya. Sebuah
anggukan tanda gerakan refleks saja sambil menelan ludah yang terasa begitu
sakit. Sangat sakit.
Babak II
Selama beristirahat, saya memilih
untuk tak memikirkan pekerjaan. Telepon berdering silih berganti sengaja saya abaikan. Whatsapp group yang
isinya soal kerjaan tak langsung saya buka. Di pagi hari saat hari pertama saya
izin untuk tak masuk kerja, saya sudah mengumumkan bahwa: “untuk sementara,
saya belum bisa dihubungi via telepon. Via chat
juga tak jamin akan cepat saya balas. Mohon bisa dimaklumi.” Saya hanya ingin
fokus pada kesembuhan. Tak ingin fokus pada pekerjaan yang memang tak ada
habisnya itu. Bagi sebagian orang saya akan dilabeli sebagai pekerja yang tak
bertanggung jawab. Saya tak ambil pusing. Bagi saya kesehatan saya adalah
tanggung jawab saya saat ini.
Apakah telepon berhenti berdering?
Tentu saja tidak. Apakah ‘pemakluman’ itu berjalan sesuai dengan ekpektasi
saya? Belum tentu. Tetap saja saya ‘diteror’. Pihak-pihak yang berhubungan
dengan saya dalam urusan kerjaan mungkin saja juga tak punya pilihan lain.
Sementara saya juga tidak selalu dalam posisi yang menguntungkan, atau paling
tidak menyenangkan semua pihak. Hidup memang jalan penuh persimpangan. Dan
memilih adalah tanda kita sedang berjalan di atasnya.
Babak III
Dua minggu sebelum saya tersungkur
di hadapan radang tenggorokan yang kelihatannya sudah tidak bisa diajak
berkompromi, beban kerjaan memang sedang gila-gilanya. Saya harus jujur akan
hal ini. Beberapa kali saya merasa beban ini tak sanggup saya pikul sendiri.
Segalanya terkonversi menjadi stres. Butuh istirahat lebih, butuh ke sana-ke
mari yang paling penting adalah saya merasa butuh pembenaran bahwa tindakan
orang-orang di dalam dunia kerja adalah konspirasi dahsyat. Tujuannya hendak
menyingkirkan saya dari lingkaran maha bising ini. Aneh. Saya merasa butuh
menyalahkan keadaan dan sikap saya yang terlalu ‘manis’ dan ‘iyaan’. Bukannya
apa, saya hanya mencoba mencari pengalaman. Saya lupa bahwa kita tak bisa
membuat pengalaman, kita hanya bisa melihatnya sebagai sesuatu yang pernah
terjadi. Begitu kira-kira kata Mas Zen RS suatu kali dalam esainya.
Dua minggu sebelum saya tersungkur
dan akhirnya harus beristirahat total. Saya memicu energi sejauh mungkin,
mengkonversinya menjadi format-format laporan, draft-draft perjanjian, email-email
pekerjaan serta serangkaian pikiran kordinasi soal pekerjaan yang harus saya
bagikan ke pihak-pihak yang berhubungan pekerjaan dengan saya. Ujung-ujungnya,
semuanya berjalan tak begitu baik saat saya sakit. Lantas apa gunanya? Saya
akhirnya menyadari kekhilafan saya. Sebagai orang yang merasa punya kontrol
atas pekerjaan ternyata sialnya –atau mungkin untungnya tergantung cara kita memandang-
saya tidak punya kontrol atas diri sendiri, atas kesehatan sendiri. Bahwa
ternyata kesehatan baik fisik dan mental tidak berjalan dengan jalan pikiran
yang saya bayangkan selama ini. Saya paham soal teori-teori mengambil jarak
dalam kesibukan atau Sejenak Hening-nya Mas Adji, tapi realita tak selalu
berjalan begitu adanya.
Babak IV
Selama hampir seminggu beristirahat
dan memulihkan fisik dan pikiran, jasmani dan rohani serta kehidupan lahiriah
dan batiniah, saya berfikir ulang tentang konsep pekerjaan, prioritas dan yang
melengkapinya. Seminggu beristirahat mungkin tidak begitu cukup mengatur ulang semuanya,
tapi cukup memberi ruang berfikir baru soal bagaimana saya ingin menjalani
kehidupan saya selanjutnya. Termasuk di dalamnya ada konsep soal pekerjaan,
prioritas, mungkin juga soal mimpi-mimpi.
Selama hampir seminggu dalam proses
sakit dan melemah, melepaskan segala atribut ‘kesibukan’ berganti pada baju
tidur yang telah lama berdebu, saya jadi sedikit-sedikit paham tentang hal-hal
esensial yang membuat saya bertanya lagi pertanyaan klasik, akar dari semua
masalah –atau juga solusi- yaitu: “kenapa saya dilahirkan? Kenapa saya saya ada
di sini, saat ini? Apa tujuan saya di dunia?"
Babak V
Saya jadi sedikit paham soal
siapa-siapa yang datang di saat sedang kesusahan. Apa-apa yang semestinya saya
persiapkan. Bahwa rencana dan kenyataan terkadang tak selalu berdampingan. Dan banyak hal yang bisa diambil sari dan pelajaran
darinya. Terlepas dari itu semua, yang paling penting adalah saya jadi lebih
mengenal diri saya sendiri. Meminjam salah satu petikan lirik FSTVLST –salah
satu band Jogja favorit- saya akan: mencoba menulis ulang lagi, yang sejatinya
dicari.
Dan kalian sedang membacanya []
Dan kalian sedang membacanya []
Comments
Post a Comment