Soal Keanehan dan Syahwat Menulis di Hari Selasa Malam

Suatu hari saya pernah membaca buku yang sayangnya saya lupa judul dan nama pengarangnya. Eh tunggu, John Maxwell kalau tidak salah. Benar, penulisnya adalah John Maxwell. Sayangnya saya masih belum bisa mengingat judul bukunya. Tapi di awal-awal, seingat saya buku itu dibuka dengan kalimat yang kira-kira begini: "Jika kalian tidak tahu ingin bercerita apa, maka ceritakanlah ketidak tahuan mu itu"

Kalimat pembuka dari tulisan ini juga saya mulai dengan 'mengamalkan' ajaran John Maxwell. FYI John Maxwell memang terkenal akan keahliannya dalam urusan-urusan Public Speaking dan kawanannya.

Bagian I
Malam ini saya begitu ingin menulis. Tidak punya ide sebenarnya, tapi keinginan menulis itu begitu besar. Entah datangnya dari mana dan kenapa, saya pun tak tahu dan tak berniat mencari tahu. Oh tunggu, mungkin karena kemarin saya mengkhatamkan membaca tulisan mas Ananda Badudu (untuk kesekian kalinya) soal bubarnya Banda Neira dan patahan-patahan cerita soal band itu. Tulisan itu sangat sederhana dan saya bisa merasakan alur juga detak ketukan jari saat mas Ananda Badudu menulis (atau mengetik) soal itu. Selain sederhana, saya juga bisa merasakan bahwa tulisan itu ditulis dengan niat tulus. Sebagaimana karya, tulisan yang dihantarkan tulus dari hati akan punya 'rasa' sendiri bagi pembacanya.

Ada begitu banyak kejadian dalam hidup, hanya sedikit yang mampu diingat. Dari yang sedikit yang mampu diingat itu, jauh lebih sedikit lagi yang mampu dan berani kita ceritakan atau tuliskan. Jauh jauh jauh lebih sedikit lagi yang bisa diabadikan.

Bagian II
Malam ini saya pulang dari kantor selepas magriban di sana. Sepulangnya saya mampir makan mie ayam di sekitaran kosan. Selayaknya anak kosan, kadang suka tak tentu arah ingin makan apa. Sebisanya memang yang bergizi, tapi jika tanggal tua tiba, segala yang terjadi adalah yang penting cukup dengan keadaan finansial. Sesampai di kosan dan berganti baju, saya merebahkan badan dan berterima kasih atas kerja kerasnya hari ini. 10-15 menitan rebahan, saya memutuskan untuk mandi, salat dan menyeduh segelas susu. Untuk kegiatan yang terakhir, kebetulan baru saya 'galakkan' lagi seminggu belakangan. Pasca sakit dan mendapati fakta kalau berat badan saya turun 2-3 kg, saya jadi makin giat dan bersemangat untuk menaikkannya. Target saya adalah 60 kg, semoga berhasil. 

Ngomong-ngomong soal kosan, sudah dua mingguan ini saya 'hijrah'. Melepaskan segala kenangan pada kosan lama untuk memulai cerita yang lain pada kosan baru. Kosan saya yang baru lumayan lengkap dibanding kosan yang lama, dengan harga yang tentu saja berbeda. Salah satu yang membuat saya senang di kosan yang baru adalah fasilitas WIFI nya. Saya jadi punya banyak waktu untuk membaca blog dan tulisan bagus pada dunia maya. Saya juga bercita-cita ingin lebih produktif lagi menulis dengan adanya fasilitas ini.

Kedua bagian tulisan di atas tidak ada hubungannya. Saya menulis hanya dalam rangka memenuhi syahwat menulis saya. Tak kurang dan semoga tak pernah lebih. Cukup!



Menulis teratur itu susah, tapi menulis dengan tidak teratur ternyata jauh lebih susah.
Kosan Karbela, Setiabudi, Jakarta, 20 Maret 2018.



Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?