Kepada Mimpi Itu



Saya membayangkan waktu terbaik untuk menulis adalah saat pikiran mulai terurai rapi, ditemani segelas milo hangat, sehabis mandi. Tapi belakangan bayangan itu jarang muncul di benak saya, bahkan untuk sekedar melintas. Sungguh saya ingin menulis blog dan bercerita soal apa saja. 

Di kantor misalnya, saya ingin menulis tentang hari-hari berat di kantor, tentang si bos yang kadang tak konsisten dan semaunya. Tentang tuntutan untuk bisa memahami dan mengerti atasan dan bawahan, tanpa ada semangat membalasnya. Tentang tenggat waktu yang membuat saya belajar mencari dan membuat alasan. Atau tentang sebegitu cepatnya waktu berlalu di saat-saat tertentu, namun menjadi melambat di saat yang lain. Tentang jarangnya saya menikmati 'pemandangan' dari lantai 21 wilayah Kuningan, yang kadang begitu menenangkan. Bikin tenang karena sedang berada di atas. Betul-betul di atas, di lantai 21.


21st floor's ambiance


Saya ingin misalnya menulis tentang macetnya Jakarta. Tentang betapa terburu-burunya orang-orang itu saat apa saja, saat ke mana saja. Ke kantor, pulang kantor, makan, ibadah bahkan saat basa-basi ala Jakarta. Tapi, bermacet-macet itu ternyata membuat saya jadi punya lebih banyak waktu untuk berfikir, untuk merenung. Tentang apa saja, ke mana saja, bersama siapa dan melakukan apa-apa yang ingin dan tak ingin. Lebih banyak mempertanyakan. Filosofis. Kayanya. 

Hingga saya tiba pada pemikiran yang kira-kira begini, menurut saya, orang-orang Jakarta (atau Bodetabek yang kemudian bekerja di Jakarta) yang terbiasa macet-macetan memiliki motto 'pantang menyerah'. Meski harus dicek dulu, mereka yang tiap hari lewat jalan-jalan macet itu, apakah memang sudah berdamai dengan kemacetan atau tidak ada pilihan jalan lain. Hal ini, menarik buat saya jika diterapkan ke dalam dimensi yang lebih luas. Kehidupan misalnya.

Anggaplah macet itu adalah masalah, dan kita yang berpergian ke tempat tujuan adalah kita yang sedang mengejar cita-cita dan impian, orang-orang Jakarta punya semangat untuk mencapai tujuannya. Tak peduli separah apapun macetnya. Meminjam semangat itu, kita rasa-rasanya perlu belajar semangat pantang menyerah. Atau begini, katakanlah kita terjebak macet (baca: masalah) yang membuat kita mau tak mau mencari jalan keluar untuk tiba di tujuan. Katakanlah kita dalam situasi yang tidak disengaja terjebak di dalam macet. Namun begitu, bagaimana jika kita sudah tahu dan paham akan resiko kemacetan, tapi tetap memilih bermacet-macet ria karena kita tahu hanya dengan cara itu kita bisa tiba pada tujuan. Entahlah.

Pernah juga saya sempat ingin menulis tentang mimpi-mimpi saya mendirikan sekolah alam. Sekolah yang ada di pelosok daerah dengan kekayaan alam yang membuncah. Dingin pada dataran dan rendahan bumi. Tentang mimpi berlari-larian atau bermain sepak bola dengan anak-anak sekolah alam. Tentang merasakan dingin, sejuk dan derasnya aliran air di kali. Tentang belajar hidup pada alam, pada anak-anak murid sekolah alam saya. Lain waktu saya membayangkan membangun perpustakaan. Tak besar, kecil saja pada satu sudut kota yang belum pernah saya datangi. Atau bolehlah pada kota yang paling sering saya datangi. Saya ingat, Mbak pacar juga punya cita-cita soal membangun toko roti. Bolehlah perpustakaan saya dan toko roti miliknya dalam satu bangunan yang sama, atau bersebelahan saja sudah cukup, asal tidak bersebrangan. Tentang mimpi saya menulis satu-dua buku sederhana. Tentang perjalanan saya bersama Mbak pacar, atau tentang bagaimana kami melihat dunia. Kebetulan, si Mbak Pacar bisa menggambar, bolehlah saya minta bantuan ilustrasinya.

Sering juga saya ingin menulis cerita soal lagu-lagu yang sedang saya dengarkan dan betapa lagu tersebut bisa mewakili ruang-ruang tertentu pada pikiran dan hati saya. Tentang bagaimana proses kreatif sebelum, sedang dan sesudah lagu itu jadi. Tentang bagaimana para musisi itu berdiskusi dan membangun argumentasinya, meramu notasi dan lirik. Tentang bagaimana caranya membuat lirik dan bebunyian yang begitu membekas. Saya juga pernah coba bikin lagu, tapi rasanya tak pantas untuk didengarkan. Ah, saya ditakdirkan untuk menikmati lagu sepertinya.

Saya juga tak jarang ingin menulis cerita tentang hidup. Tentang misteri dan kotak pandoranya. Tentang arah dan persimpangannya. Tentang kematian yang menjadi ujungnya, atau awalan untuk hidup yang lain. Tentang bagaimana kita harusnya mengisi dan memaknai tiap jengkal prosesnya. Tentang apa saja yang bisa hidup, menghidupi dan dihidupi.

Ah sungguh saya ingin menulis itu semua. Tapi waktu tak selalu berpihak belakangan. Sukurlah hari ini ia menatap. Berawal dari ulik-ulik blognya Banda Neira dan cerita-cerita renyah di Thedustysneakers.com saya bertekad untuk mengabadikannya. Ditemani sayup-sayup lagu Banda Neira yang masuk telinga melalui headset putih saya yang terhubung pada laptop kantor. Ya benar, saya menulis ini di sela-sela waktu bekerja. 

Ternyata bayangan saya tentang waktu menulis terbaik, pada awal tulisan ini memang tidak terjadi, nyatanya saya menulis tidak pada waktu-waktu yang saya bayangkan itu. Memang benar, semesta bekerja tak seperti yang kita bayangkan.








Ditulis di lantai 21 pada salah satu gedung tinggi di kawasan Kuningan, Jakarta.
26 Juli 2018
sedang mengalun: Banda Neira - Sampai Jadi Debu

Comments

Popular posts from this blog

Menulis Pengalaman: Menjemput Kehidupan Baru

Eleventwelfth feat. Asteriska - Your Head as my Favourite Bookstore

Farewell Greeting, Maybe?